Semilir angin menerpa
wajahku. Membelai penuh kasih sayang. Aku kini duduk diatas hamparan pasir di
tepi pantai Kuta. Ku nikmati alam yang penuh suka cita. Dihadapanku anak-anak
berlari kian kemari. Sedang orang tuanya duduk mengawasi tak jauh dari tempatku
duduk. Kualihkan pandanganku ke sisi kiri. Terlihat sekumpulan wanita sedang
berfoto ria. Aku tersenyum kemudian memalingkan wajah ke arah berlawanan. “Ya allah, indahnya ciptaan-Mu. Dia tersenyum padaku. manis!.”
“Hai…
hellow… hei…” lama baru aku tersadar ia menyapa sambil
melambaikan tangannya ke arahku.“Hah…
a..aku?,” jawabku sambil menunjuk wajahku sendiri.
“iya kamu… kamu kenapa?” Dari tadi dipanggilin gak nyaut-nyaut.”
“Ha… gak kenapa-napa.” Jawabku cuek sambil memalingkan wajah kearah pantai.
“Loh kok mataharinya udah gak ada? Aku kan disini dari tadi nungguin sunset.” Tanyaku sedikit berteriak.
“Makanya kalau dipanggil itu nyaut… mataharinya udah tenggelam dari tadi keles.” Jawab pemuda hitam manis di sebelahku.
“Yah… gagal deh liat sunset di pantai Kuta. Besok mana bisa lagi kesini.” Sesalku sedikit berbisik.
“iya kamu… kamu kenapa?” Dari tadi dipanggilin gak nyaut-nyaut.”
“Ha… gak kenapa-napa.” Jawabku cuek sambil memalingkan wajah kearah pantai.
“Loh kok mataharinya udah gak ada? Aku kan disini dari tadi nungguin sunset.” Tanyaku sedikit berteriak.
“Makanya kalau dipanggil itu nyaut… mataharinya udah tenggelam dari tadi keles.” Jawab pemuda hitam manis di sebelahku.
“Yah… gagal deh liat sunset di pantai Kuta. Besok mana bisa lagi kesini.” Sesalku sedikit berbisik.
Ku ambil tas dan sepatu
di samping kananku. Dengan berat hati aku berdiri kemudian berbalik.
Niatku hendak pulang. Aku ingin packing agar besok tidak terlambat ke
bandara. Karena jadwal libur kuliahku telah habis.
“Eh… sebentar, lenganku seperti dipegang oleh seseorang. Siapa sih yang berani-berani pegang tangan aku? Awas aja! Aku tam…”, ucapku dalam hati.
“Mau kemana?”
“Loh, inikan suara cowok itu. Jadi dia yang…” aku segera berbalik dan memasang tampang cuek.
“Ngapain kamu pegang tanggan aku? Lepasin!” Aku menyentak tangannya kuat hingga genggamannya terlepas.
“Aku gak bermaksud apa-apa. Aku Cuma ingin memperlihatkan ke kamu sunset di senja ini.” Ia memperlihatkan foto sunset di kemeranya pada ku. “Ya allah, indah sekali. “
“Keren ya… kamu berbakat jadi fotografer.” Ucapku sambil tersenyum padanya. “Aku memang seorang fotografer. Namaku Edo. Kalau kamu?”
“Eh… sebentar, lenganku seperti dipegang oleh seseorang. Siapa sih yang berani-berani pegang tangan aku? Awas aja! Aku tam…”, ucapku dalam hati.
“Mau kemana?”
“Loh, inikan suara cowok itu. Jadi dia yang…” aku segera berbalik dan memasang tampang cuek.
“Ngapain kamu pegang tanggan aku? Lepasin!” Aku menyentak tangannya kuat hingga genggamannya terlepas.
“Aku gak bermaksud apa-apa. Aku Cuma ingin memperlihatkan ke kamu sunset di senja ini.” Ia memperlihatkan foto sunset di kemeranya pada ku. “Ya allah, indah sekali. “
“Keren ya… kamu berbakat jadi fotografer.” Ucapku sambil tersenyum padanya. “Aku memang seorang fotografer. Namaku Edo. Kalau kamu?”
Aku melihat
sekelilingku, “Ya Allah. Di pantai ini
hanya tinggal kami berdua.”
“Maaf ya
Edo, aku duluan. Sampai ketemu di lain waktu.” ucapku sambil
berjalan menjauh meninggalkan pantai. Dalam hati aku merasa sangat senang
sekali. Bertemu seseorang yang membuat Senjaku berwarna merah jambu. Aku jatuh
cinta.

