31 Oktober, 2014

SENJA MERAH JAMBU




Semilir angin menerpa wajahku. Membelai penuh kasih sayang. Aku kini duduk diatas hamparan pasir di tepi pantai Kuta. Ku nikmati alam yang penuh suka cita. Dihadapanku anak-anak berlari kian kemari. Sedang orang tuanya duduk mengawasi tak jauh dari tempatku duduk. Kualihkan pandanganku ke sisi kiri. Terlihat sekumpulan wanita sedang berfoto ria. Aku tersenyum kemudian memalingkan wajah ke arah berlawanan. “Ya allah, indahnya ciptaan-Mu. Dia tersenyum padaku. manis!.” 
“Hai… hellow… hei…” lama baru aku tersadar ia menyapa sambil melambaikan tangannya ke arahku.“Hah… a..aku?,” jawabku sambil menunjuk wajahku sendiri.  
“iya kamu… kamu kenapa?” Dari tadi dipanggilin gak nyaut-nyaut.”   
“Ha… gak kenapa-napa.” Jawabku cuek sambil memalingkan wajah kearah pantai. 
“Loh kok mataharinya udah gak ada? Aku kan disini dari tadi nungguin sunset.” Tanyaku sedikit berteriak. 
“Makanya kalau dipanggil itu nyaut… mataharinya udah tenggelam dari tadi keles.” Jawab pemuda hitam manis di sebelahku. 
“Yah… gagal deh liat sunset di pantai Kuta. Besok mana bisa lagi kesini.” Sesalku sedikit berbisik.
Ku ambil tas dan sepatu di samping kananku. Dengan berat hati aku berdiri kemudian berbalik. Niatku  hendak pulang. Aku ingin packing agar besok tidak terlambat ke bandara. Karena jadwal libur kuliahku telah habis. 
“Eh… sebentar, lenganku seperti dipegang oleh seseorang. Siapa sih yang berani-berani pegang tangan aku? Awas aja! Aku tam…”, ucapku dalam hati. 
“Mau kemana?”
“Loh, inikan suara cowok itu. Jadi dia yang…” aku segera berbalik dan memasang tampang cuek.
Ngapain kamu pegang tanggan aku? Lepasin!” Aku menyentak tangannya kuat hingga genggamannya terlepas. 
“Aku gak bermaksud apa-apa. Aku Cuma ingin memperlihatkan ke kamu sunset di senja ini.” Ia memperlihatkan foto sunset di kemeranya pada ku. “Ya allah, indah sekali. “ 
“Keren ya… kamu berbakat jadi fotografer.”  Ucapku sambil tersenyum padanya. “Aku memang seorang fotografer. Namaku Edo. Kalau kamu?”
Aku melihat sekelilingku, “Ya Allah. Di pantai ini hanya tinggal kami berdua.”
 “Maaf ya Edo, aku duluan. Sampai ketemu di lain waktu.” ucapku sambil berjalan menjauh meninggalkan pantai. Dalam hati aku merasa sangat senang sekali. Bertemu seseorang yang membuat Senjaku berwarna merah jambu. Aku jatuh cinta.

Menulis Sampai Tinta Alam Habis



Menulis bukan tentang kemampuan alami. Menulis bisa dilakukan siapa saja. Selama ia memiliki ide dan menuangkannya dalam sebuah coretan sederhana. bukan coretan sembarangan. Tetapi coretan sederhana yang penuh makna.



Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)". (Q.S Al-Kahfi: 109)

Dari ayat al-qur’an ini dapat kita simpulkan bersama, menulis itu adalah salah satu nikmat Tuhan. Dan ketika kita menuliskan seluruh nikmat Tuhan, niscaya tak ada habisnya. Menulislah sebanyak yang kamu bisa. Menulislah tanpa menghawatikan tinta yang kamu punya akan habis. Menulislah hingga seluruh tinta di alam ini habis.

Aku hanyalah pemula,
Mulai mencintai dunia tulis menulis
Aku benci membaca
Tapi kini, aku mulai membuka diri
Membaca apa saja yang bisa ku baca

Aku hanyalah anak kencur dalam dunia baruku. Dunia tulis-menulis yang telah diselami berbagai jiwa. Aku membaca tulisan-tulisan mereka para terdahulu. Aku ingin tulisanku semakin baik dari hari ke hari. 

Aku ingin menulis seperti aku menggambar. Menulis dengan goresan lembut, mewarnai dengan dengan warnaku sendiri. Dengan demikian, aku berharap tulisanku akan dinikmati para pembaca yang haus akan tulisan.

Terkesan labil, aku akui ini labil
Tapi tekadku ingin menjadi sejarah
Akan ku buktikan
Tulisan yang akan mengantarkanku
Menuju langkah menggenggam dunia
Tulisan yang akan membuatku
Tak termakan oleh waktu

Kekuatan yang kita berikan dalam tulisan mampu membuat nama kita dikenang sepanjang masa. Ilmu kita di pergunakan anak cucu. Satu tahun mendatang, dua tahun kemudian dan bertahun-tahun lamanya yang pernah tertulis akan terbaca.

Meski nanti aku mati
Namaku akan tetap hidup
Karena aku pernah menulis

Artikel ini saya ikut sertakan dalam lomba menulis “Menerbitkan Buku dan Jadi Penulis”  oleh http://www.rasibook.com/p/tentang-kami.html