30 April, 2015

Pers Bebas Bersyarat




Dari zaman ke zaman kita dituntut untuk lebih peka terhadap perubahan dunia dan berpartisipasi untukmenentukan kebijakan dunia. Ketika rasa peka muncul dalam diri suatu masyarakat maka semua orang ingin membuka diri menerima yang namanya perubahan.
Kini kita hidup di era globalisasi yang semakin hari semakin modern. Semakin hari semakin populer. Dan semakin hari semakin membuat kita teler.budaya luhur kian luntur. Budaya barat kian melekat.
Pers, media massa seperti koran dan internet telah menjadi sahabat sejatinya orang-orang disetiap belahan dunia. Tanpa sadar mereka seakan telah mewajibkan diri memulai hari dengan berita dan menutup hari pun dengan berita. Rumah berdinding papan tetapi smartphone tidak tinggal. Penghasilan pas-pasan tetapi smartphone tetap diusahakan. Penghasilan bulanan puluhan juta rupiah smartphone justru menjadi number one.
Media massa telah berperan penting dalam menciptakan komunikasi intens di dalam masyarakat. 
Melalui social media seperti facebook, twitterdan sebagainya kita bisa berbagi informasi, berbagi cerita dan bersilaturrahmi tanpa bertatap muka dengan keluarga, teman, dan orang-orang asing yang ingin kita kenal.
Dengan demikian orang-orang akan berkomunikasi di sebuah dunia baru yang disebut “dunia maya”. Setiap orang di penjuru dunia meluangkan waktu untuk saling bertukar fikiran dan bercengkrama menikmati indahnya dunia baru mereka.
Tanggung jawab yang harus dijawab.
Dibalik indahnya pers yang selalu memberikan informasi dan hiburan. Tak jarang pers mengundang aksi dan reaksi yang melahirkan kontroversi. Ketika suatu kebijakan tentang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan ditetapkan pemerintah Indonesia. Maka seluruh penduduk ibu kota hingga pelosok negeri bergejolak dimedia massa. Dukungan dan penolakan hiruk-pikuk mewarnai dunia pers Indonesia. Secara serentak BBM menjadi langka. Antrian panjang di setiap pom bensin. Tak jarang ada yang berbalik dari antrian dan kecewa. Melanjutkan perjalanan ke pom bensin selanjutnya. Tertulis “Bensin habis!”yang menyesakkan dada.
Media sosial akhirnya menjadi tempat pelampiasan kekecewaan. Media sosial menjadi tempat carut-marut jutaan mulut.Kasus yang belum lama ini telah terjadi ialah pencemaran nama baik kota pelajar Yogyakarta oleh seorang


mahasiswi aktif bernama Florence yang tengah menjalani study S2 di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.
Kasus ini mencuat ke publik berawal dari tulisan Florence di akun twitter miliknya yang mengatakan bahwa ia tak puas dengan pelayanan salah satu karyawan pom bensin di Yogyakarta yang memarahinya saat ia dengan sepeda motornya ingin mengisi bensin di antrian mobil. Tulisan-tulisan Florence berikutnya semakin tak berarah dan akhirnya  mengundang amarah warga Yogyakarta. Kemudian ia di laporkan kepada pihak yang berwenang untuk mempertanggung jawabkan tulisannya.
Seringkali kita terlena akan makna kata bebas.Sehingga kita lupa bahwa bebas itu memiliki satu syarat yaitu pertanggung jawaban. Pertanggung jawaban yang akan di tanggung oleh diri sendiri. Di dalam perskita memang bebas berekspresi tetapi harus memperhatikan norma norma yang berlaku.