02 November, 2014

KUNANG KUNANG JANGAN PERGI


kunang-kunang jangan pergi.
Tetaplah temani aku disini.
Penerang di kala malam menyelimuti.
Pemberi kekuatan disaat diri merasa tak berarti.
Dalam kegelapan kunang-kunangku tetap terbang mengiringi.
Ku tak pernah takut selama kau ada di sisi,
menyertai langkahku menuju cahaya sejati.
Aku selalu merindukan kunang-kunangku
ketika aku jauh melangkah tanpa dirimu.
Ada ruang hampa dihati.
Ruang khusus untuk kunang-kunang sang polisi.
Kunang-kunang memepkenalkan ku pada sebuah dunia.
Kunang-kunang mengajariku segala kunci kehidupan.
Menunjukkanku jalan kebenaran.
Dengan cahaya yang engkau miliki,
Aku mengikutimu terbang dan menari.
Aku percaya,  Kunang-kunang menghantarkanku pada cahaya ilahi
yang kelak lebih hakiki.
Ketika kunang-kuangku tak memiliki cahaya lagi,
Aku mengharapkanmu tetap terbang dan menari dalam hati ini.
Aku mencintaimu. Sungguh!
Meski nanti kunang-kunangku telah menghadap ilahi.
Cahayamu akan tetap abadi.

01 November, 2014

Dongeng Tentang MICRO - Bag. 2


Katak, katak dan katak. Aku takut setelah mengetik satu kata “KATAK” maka satu katak di bumi menghilang. Aku takut tertuduh menjadi seseorang yang memusnahkan katak dari peradaban seperti musnahnya Dinosaurus. 

Katak tersayangku kini bernama “MICRO”.


Micro terlahir dari seorang ibu dan ayah yang bernama Macro. Artinya Micro terlahir sebagai katak dengan tubuh kecil, tak seperti katak normal lainnya. Micro tak pernah mempersalahkan keadaannya, baginya kecil bukan berarti terbatas ini dan itu. 

Saat Micro dalam masa berudu ia terkenal sebagai perenang yang ceroboh, ia pernah berenang di perairan tenang, tetapi ia hanyut. kemudian ia pernah berenang kian kemari, lalu tersesat dan tetangga mengantarkannya pulang. Ia juga pernah berenang di rawa-rawa, lalu pulang dengan tubuh penuh luka.


Micro kecil berkata dalam hatinya, 
“hanyut, tersesat dan penuh luka adalah proses ku menjadi perenang hebat”. 
Hal itu terjadi dan Micro telah berniat mengubahnya, lalu ia bertekad 
“aku adalah aku, aku berbeda dari yang lainnya, aku bisa menjadi yang terbaik. Kegagalanku akan membawaku pada keberhasilan”.


Setelah bertekad Micro datang kepada teman-temannya. Ia berdiam diri memandangi teman-temannya yang sedang asyik berenang mengikuti irama aliran air anak sungai. ia Bersandar dan pertopang dagu menatap air dihadapannya. Teman-teman Micro ternyata menyadari kehadirannya. Namun, Teman-teman Micro hanya menoleh sejenak dan bersikap acuh tak acuh seolah Micro tidak ada. 

Menurut teman-temannya Micro sedang berdiam diri menikmati kenyataan bahwa ia hanyalah perenang yang ceroboh. Tetapi satu hal yang tidak diketahui teman-temannya. Saat  ini Micro ternyata sedang mengevaluasi dirinya. Pikirannya tidak tinggal diam, dalam kebisuannya ternyata ia terus berfikir dan menilai keadaan. 


Ia berdiskusi dengan hati dan fikirannya, “air, arah aliran, hambatan, gerakan ekor dan dorongan tenaga”. Perhitungan terus difikirkan, tanpa sadar ternyata ia telah melakukannya selama 3 jam. 


Micro beralih dari tempat ia berfikir ke sisi kanan anak sungai. Ia mulai mencoba menyatukan 5 unsur tersebut.


Micro merasakan aliran air anak sungai searah dengan tubuhnya. Ia mulai melenggak-lenggokkan ekornya ke kiri dan ke kanan merasakan lembutnya sentuhan air. Perlahan-lahan Micro mendorong badannya dan mulai berenang. Namun, ia justru hanyut sekitar 2 meter, membentur bebatuan kecil anak sungai. 

Ia bersyukur pada Tuhan “terima kasih Tuhan kau telah memberiku hidup 1 kali lagi”. Micro tidak bisa membayangkan jika ia hanyut beberapa meter lagi dan membentur bebatuan yang lebih besar.


Teman-teman Micro yang melihat kejadian itu tidak ada satu pun yang menolong Micro beranjak ke tepi anak sungai. Mereka justru mencemooh dan terus melontarkan kata-kata hinaan kepada Micro. 


Micro mendengar dengan sangat jelas bahwa Tara –salah satu teman Micro berteriak  
kalau tidak bisa berenang, ya sudah. Berdiam diri saja dirumah. Jangan membuat ibu dan ayahmu khawatir dan akhirnya mendengar kabar bahwa anak kesayangannya Micro, telah hanyut terseret arus anak sungai. Sangat miris sekali bukan?. Hahahha.


Micro mengabaikan ucapan Tara tersebut dan beranjak pulang dengan berenang perlahan-lahan sambil memegangi tepian anak sungai. 

Ketika hari telah larut malam. Micro belum juga memejamkan matanya. Ia terfikir ucapan Tara siang tadi –meskipun ia telah mencoba mengabaikan semuanya. Ucapan Tara ada benarnya juga, andai saja tadi ia benar-benar hanyut. pasti orang tuanya sangat sedih sekali –karena ia adalah anak satu-satunya. Tetapi hati kecil Micro berkata lain –ia harus tetap mewujudkan tekadnya untuk menjadi perenang yang hebat. Dengan begitu semua orang-orang akan mengubah pikirannya –yang selalu menyepelekan Micro dan orang tuanya akan bangga padanya.

Hari berikutnya Micro datang lagi ke tempat ia hampir hanyut kemarin. Kembali merenungkan 5 unsur tersebut. Ia bertanya-tanya dalam hati “apa yang telah membuatku hanyut seperti kemarin?” “apa adanya yang salah?” “Tuhan, bantulah hambamu ini.”

Micro kembali beranjak ke sisi kanan anak sungai. Kembali merasakan aliran air anak sungai dengan ekornya. Air yang berjalan meninggalkannya yang tetap berdiam diri. Micro melakukannya persis seperti hari kemarin. Perlahan ia kembali mendorong tubuhnya. 

Ia bersorak gembira dalam hati “aku bisa. Aku bisa melakukannya.” 
Baru sesaat kata itu terucap dihatinya. Ia kembali hanyut sejauh 1 meter menyapa tepi anak sungai. Nafasnya terengah-engah dan Micro menghirup udara sebanyak mungkin untuk menenagkan dirinya.

Micro-ku pulang kembali dengan wajah yang sangat lelah. Selama perjalanan pulang ia terus berfikir “dimana letak kesalahanku Tuhan?” “mengapa rasanya sulit sekali untuk berenang dengan baik?” ah tidak, tidak. 
Apa sekarang aku berputus asa? Menyerah? Tidak akan secepat itu! Aku akan terus berusaha dan mencobanya –tekad Micro.

Hari ketiga dan hari-hari selanjutnya Micro terus mencoba dan begitu pula akhirnya –gagal, gagal dan gagal. di hari yang ke-6 Micro benar-benar hampir putus asa. Ibu Macro yang melihat anaknya selalu pulang dengan wajah lelah dan sebal mulai gelisah. Sebenarnya, telah beberapa hari Ibu Macro melihat Micro pulang dengan wajah kecewa. Ibu Macro hanya menganggap Micro punya masalah biasa –seperti pertengkaran atau hal lainnya dengan teman-temannya.


Tidak tahan melihat anaknya, akhirnya Ibu Macro mendatangi kamar Micro.   
“Nak, apa kau sedang punya masalah? Akhir-akhir ini Ibu selalu melihat kau pulang senja dengan wajah ditekuk-tekuk. Jika Ibu boleh tahu, apa masalah yang sedang kau hadapai? Ceritakan pada Ibu. Ibu tidak ingin melihat Micro –anakku tersayang menjadi seperti ini, seperti tidak ingin hidup saja.”

“Bu…”

“ya sayang, ada apa?”
Micro memeluk Ibunya dengan sangat erat. Perlahan Micro mendongak, tersenyum dan berkata “apa menurut Ibu aku bisa menjadi perenang yang hebat?”

“tentu sayang, kau bisa menjadi apa pun yang kau mau. Bahkan kau bisa menjadi burung jika kau benar-benar menginginkannya.”
Micro melepas pelukannya, menatap Ibunya bingung dan akhirnya bersuara 
Menjadi burung bu? Aku hanyalah seekor berudu. Aku pun tidak terlahir normal seperti yang lainnya. apa Ibu hanya membesar-besarkan hatiku saja?”

“bagi Ibu normal atau pun tidak, kau adalah anak Ibu yang telah dititipkan Tuhan. Dan Ibu harus bisa merawat, menjaga dan membuatmu menjadi perenang hebat. Ibu percaya setiap berudu seperti kau mempunyai naluri alami untuk berenang. Hanya saja, kau belum tahu bagaimana menggunakannya dengan baik.” –Ibu Macro tersenyum seraya mengusap puncak kepala Micro.
Micro mengangguk setuju dengan pendapat Ibunya barusan. 
“bagaimana cara mengembangan naluri itu bu?  Aku saja belum mengerti benar tentang hal-hal yang memeengaruhi cara berenang seseorang. Seminggu yang lalu aku telah mencoba memikirkannya bu, menurutku ada 5 unsur yang mempengaruhi cara berenang.” Kata Micro.

“oh ya…? Apa iya kau telah memikirkannya? Coba katakana pada Ibu 5 unsur itu.”

“air, arah aliran, hambatan seperti bebatuan anak sungai, gerakan ekor dan dorongan tenaga bu.”

“ternyata anak Ibu memang pintar. Semua yang kau sebutkan sangat tepat nak. Coba ceritakan pada Ibu kegagalan seperti apa yang telah kau alami selama seminggu ini.”
            
Akhirnya Micro menceritakan semuanya. Dari hari pertama ia mencoba hingga tadi siang ia mencobanya lagi dan gagal lagi.

            Ibu Macro tersenyum dan berkata 
“kau telah berusaha sejauh ini. Ingatlah nak, tidak ada usaha yang sia-sia. Setiap usaha ada hasil yang kita dapatkan. Kegagalan demi kegagalan akan membuatmu mampu bertahan sejauh ini. Kegagalan membuat mu lebih kuat dari temanmu yang lainnya. kegagalan justru akan membuatmu menjadi bintang yang bersinar nantinya.”
Ibunya diam sejenak, dan menatap Micro penuh arti 
“nak, kau melakukannya dengan baik tetapi belum bisa dikatakan sangat baik. Kau telah melupakan 1 dari 5 unsur itu. Unsur penting yang mampu membuat mu hanyut atau membuatmu mampu berenang dengan baik.”

“aku melupakan seseuatu bu?” Micro mengernyitkan keningnya, dan meminta Ibunya melanjutkan penjelasan tadi.
“kau lupa akan kecepatan air anakku. Kemarin kau hanya merasakan aliran air anak sungai dengan menggerakkan ekormu sekiri dan kekanan, tapi kau lupa memperhitungkan kecepatannya. Kau hanya melihat air perlahan meninggalkan tempatmu berdiam saat ingin memulai. Yang diperlukan adalah perhitungan yang tepat tentang kecepatan air dan dorongan tenagamu terhadap air –baik air yang berarus tenang, sedang, sampai air berarus cepat.”

Setelah itu Micro tersadar dan memeluk Ibunya erat sekali. Micro berpamitan pada Ibunya. Dan ia pergi ketempat kegagalannya untuk menjemput keberhasilannya. 

Sebuah kesimpulan tentang hal-hal yang menentukan cara berenangnya. Telah ia dapatkan dari Ibunya.  Akhirnya Micro mencobanya, perlahan dan pasti ia melakukannya dengan mengkombinasikan 5 unsur cara berenang secara sempurna. Ekor yang ia miliki, tenyata Tuhan telah memikirkan dengan jelas manfaatnya. Micro bersyukur di dalam hatinya dan berkata “semakin cepat ekorku bergerak mengikuti kecepatan air maka aku semakin jauh dari titik awal aku memulai, karena ekorku dan air terus bekerja sama mendorongku hingga akhir tujuanku.”

Teman-teman Micro yang seminggu lalu berenang dengannya kini melihat kemampuan Micro. Ia tercekat kanget dan hampir terkena serangan jantung mendadak. Tara dan yang lainnya melihat Micro yang berenang dengan santai, indah dan berirama seakan-akan ia sangat menikmati cara berenangnya.

Berbagai gaya berenang ia lakukan, teman-temannya mulai mendekat dan berenang bersama-sama. Seorang  teman Micro yang lain bernama Rafa bertanya “bagaimana bisa kau melakukan ini dengan sangat baik? yang aku tahu kau hanyalah seekor perenang yang ceroboh.”

Micro tersenyum menanggapi hal tersebut, baginya wajar bila saat ini teman-temannya heran atau bisa dikatakana iri pada kemampuannya.
Micro menjelaskan kepada teman-temannya tentang apa yang telah ia lakukan selama seminggu ini hingga saat ini ia bisa berenang dengan baik.

Semua teman-temannya perlahan mengerti dan menyadari suatu kesalahan yang telah terjadi pada fikiran dan perkataan mereka. Tara membuka suara “aku meminta maaf kepadamu. Karena aku telah berfikir, seminggu lalu hingga hari-hari berikutnya kau terus berenang dan terbentur –membenturkan dirimu ke bebatuan. Itu karena kau frustasi dengan kemampuan renang yang kau punya. Ternyata aku salah menilaimu. Selama waktu belalu dalam seminggu ternyata kau telah memikirkan semua hal yang membuatmu mampu berubah menjadi lebih baik dari kami.”

Teman Micro yang lainnya juga bersuara “aku akui kemampuan yang kau punya sungguh luar biasa, hanya saja kemarin kau belum tahu cara menggunakan kemampuanmu dengan baik. Seandainya kau tidak berfikir kritis tentang dirimu, maka kemampuan renangmu yang luar biasa ini tidak akan bisa kami lihat.”
            

 Micro berkata dalam hatinya  

“terima kasih Tuhan, 

terima kasih Ibu.”


Micro lagi-lagi tersenyum, membenarkan semua perkataan teman-temannya. Lalu, fikirannya melayang jauh mengenang masa-masa lalu disaat ia menjadi perenang yang ceroboh. Lalu Micro tersadar saat Rafa mengatakan dengan jelas dan lantang bahwa 

“Micro si ceroboh telah menjelma menjadi Micro si perenang hebat”.

Micro berterima kasih atas julukan baru yang diberikan oleh teman-temannya. Micro dan teman-teman kembali kerumah masing-masing karena hari telah menjelang petang. Di sepanjang  perjalan pulang mereka terus menyenandungkan kata-kata 

“MICRO SI PERENANG HEBAT”.
            Keesokan harinya, seluruh desa tahu bahwa Micro anak dari Bapak dan Ibu Macro telah terlahir kembali menjadi “perenang hebat”. 

Micro: “keterbatasan dan kegagalan 
 bukan suatu hambatan untuk menjadi sukses, 
terkadang keterbatasan dan kegagalan
 yang selalu dihina itu 
menjadikan kamu lebih sukses dari yang lainnya.”
 
Bapak dan Ibu Macro sangat bangga kepada Micro. Dibalik keterbatasannya, ia bisa menjadi anak yang luar biasa. Ibu dan Bapak Macro serta Micro selalu bersyukur atas apa yang telah terjadi didalam hidupnya.