Katak, katak dan katak. Aku takut setelah mengetik satu kata “KATAK” maka satu katak di bumi menghilang. Aku takut tertuduh menjadi seseorang yang memusnahkan katak dari peradaban seperti musnahnya Dinosaurus.
Katak tersayangku kini bernama “MICRO”.
Micro terlahir dari seorang ibu dan
ayah yang bernama Macro. Artinya Micro terlahir sebagai katak dengan tubuh
kecil, tak seperti katak normal lainnya. Micro tak pernah mempersalahkan
keadaannya, baginya kecil bukan berarti terbatas ini dan itu.
Saat Micro dalam
masa berudu ia terkenal sebagai perenang yang ceroboh, ia pernah berenang di
perairan tenang, tetapi ia hanyut. kemudian ia pernah berenang kian kemari,
lalu tersesat dan tetangga mengantarkannya pulang. Ia juga pernah berenang di
rawa-rawa, lalu pulang dengan tubuh penuh luka.
Micro kecil berkata dalam hatinya,
“hanyut, tersesat dan penuh luka adalah proses ku menjadi perenang hebat”.
Hal
itu terjadi dan Micro telah berniat mengubahnya, lalu ia bertekad
“aku adalah
aku, aku berbeda dari yang lainnya, aku bisa menjadi yang terbaik. Kegagalanku
akan membawaku pada keberhasilan”.
Setelah bertekad Micro datang kepada
teman-temannya. Ia berdiam diri memandangi teman-temannya yang sedang asyik
berenang mengikuti irama aliran air anak sungai. ia Bersandar dan pertopang
dagu menatap air dihadapannya. Teman-teman Micro ternyata menyadari
kehadirannya. Namun, Teman-teman Micro hanya menoleh sejenak dan bersikap acuh
tak acuh seolah Micro tidak ada.
Menurut teman-temannya Micro sedang berdiam
diri menikmati kenyataan bahwa ia hanyalah perenang yang ceroboh. Tetapi satu
hal yang tidak diketahui teman-temannya. Saat ini Micro ternyata sedang mengevaluasi
dirinya. Pikirannya tidak tinggal diam, dalam kebisuannya ternyata ia terus
berfikir dan menilai keadaan.
Ia berdiskusi dengan hati dan
fikirannya, “air, arah aliran, hambatan, gerakan ekor dan dorongan tenaga”.
Perhitungan terus difikirkan, tanpa sadar ternyata ia telah melakukannya selama
3 jam.
Micro beralih dari tempat ia berfikir
ke sisi kanan anak sungai. Ia mulai mencoba menyatukan 5 unsur tersebut.
Micro merasakan aliran air anak sungai searah
dengan tubuhnya. Ia mulai melenggak-lenggokkan ekornya ke kiri dan ke kanan
merasakan lembutnya sentuhan air. Perlahan-lahan Micro mendorong badannya dan
mulai berenang. Namun, ia justru hanyut sekitar 2 meter, membentur bebatuan
kecil anak sungai.
Ia bersyukur pada Tuhan “terima kasih Tuhan kau telah
memberiku hidup 1 kali lagi”. Micro tidak bisa membayangkan jika ia hanyut
beberapa meter lagi dan membentur bebatuan yang lebih besar.
Teman-teman Micro yang melihat kejadian
itu tidak ada satu pun yang menolong Micro beranjak ke tepi anak sungai. Mereka
justru mencemooh dan terus melontarkan kata-kata hinaan kepada Micro.
Micro mendengar dengan sangat jelas bahwa Tara –salah satu teman Micro berteriak
“kalau tidak bisa berenang, ya sudah. Berdiam diri saja dirumah. Jangan membuat ibu dan ayahmu khawatir dan akhirnya mendengar kabar bahwa anak kesayangannya Micro, telah hanyut terseret arus anak sungai. Sangat miris sekali bukan?. Hahahha.”
Micro mengabaikan ucapan Tara tersebut
dan beranjak pulang dengan berenang perlahan-lahan sambil memegangi tepian anak
sungai.
Ketika hari telah larut malam. Micro
belum juga memejamkan matanya. Ia terfikir ucapan Tara siang tadi –meskipun ia
telah mencoba mengabaikan semuanya. Ucapan Tara ada benarnya juga, andai saja
tadi ia benar-benar hanyut. pasti orang tuanya sangat sedih sekali –karena ia
adalah anak satu-satunya. Tetapi hati kecil Micro berkata lain –ia harus tetap
mewujudkan tekadnya untuk menjadi perenang yang hebat. Dengan begitu semua
orang-orang akan mengubah pikirannya –yang selalu menyepelekan Micro dan orang
tuanya akan bangga padanya.
Hari berikutnya Micro datang lagi ke
tempat ia hampir hanyut kemarin. Kembali merenungkan 5 unsur tersebut. Ia
bertanya-tanya dalam hati “apa yang telah membuatku hanyut seperti kemarin?” “apa
adanya yang salah?” “Tuhan, bantulah hambamu ini.”
Micro kembali beranjak ke sisi kanan anak
sungai. Kembali merasakan aliran air anak sungai dengan ekornya. Air yang
berjalan meninggalkannya yang tetap berdiam diri. Micro melakukannya persis
seperti hari kemarin. Perlahan ia kembali mendorong tubuhnya.
Ia bersorak gembira dalam hati “aku
bisa. Aku bisa melakukannya.”
Baru sesaat kata itu terucap dihatinya. Ia
kembali hanyut sejauh 1 meter menyapa tepi anak sungai. Nafasnya terengah-engah
dan Micro menghirup udara sebanyak mungkin untuk menenagkan dirinya.
Micro-ku pulang kembali dengan wajah yang
sangat lelah. Selama perjalanan pulang ia terus berfikir “dimana letak
kesalahanku Tuhan?” “mengapa rasanya sulit sekali untuk berenang dengan baik?”
ah tidak, tidak.
Apa sekarang aku berputus asa? Menyerah? Tidak akan secepat
itu! Aku akan terus berusaha dan mencobanya –tekad Micro.
Hari ketiga dan hari-hari selanjutnya
Micro terus mencoba dan begitu pula akhirnya –gagal, gagal dan gagal. di hari
yang ke-6 Micro benar-benar hampir putus asa. Ibu Macro yang melihat anaknya
selalu pulang dengan wajah lelah dan sebal mulai gelisah. Sebenarnya, telah
beberapa hari Ibu Macro melihat Micro pulang dengan wajah kecewa. Ibu Macro
hanya menganggap Micro punya masalah biasa –seperti pertengkaran atau hal
lainnya dengan teman-temannya.
Tidak tahan melihat anaknya, akhirnya Ibu Macro mendatangi kamar Micro.
“Nak, apa kau sedang punya masalah? Akhir-akhir ini Ibu selalu melihat kau pulang senja dengan wajah ditekuk-tekuk. Jika Ibu boleh tahu, apa masalah yang sedang kau hadapai? Ceritakan pada Ibu. Ibu tidak ingin melihat Micro –anakku tersayang menjadi seperti ini, seperti tidak ingin hidup saja.”
“Bu…”
“ya sayang, ada apa?”
Micro memeluk Ibunya dengan sangat
erat. Perlahan Micro mendongak, tersenyum dan berkata “apa menurut Ibu aku bisa
menjadi perenang yang hebat?”
“tentu sayang, kau bisa menjadi apa pun
yang kau mau. Bahkan kau bisa menjadi burung jika kau benar-benar
menginginkannya.”
Micro melepas pelukannya, menatap
Ibunya bingung dan akhirnya bersuara
“Menjadi burung bu? Aku hanyalah seekor
berudu. Aku pun tidak terlahir normal seperti yang lainnya. apa Ibu hanya
membesar-besarkan hatiku saja?”
“bagi Ibu normal atau pun tidak, kau
adalah anak Ibu yang telah dititipkan Tuhan. Dan Ibu harus bisa merawat,
menjaga dan membuatmu menjadi perenang hebat. Ibu percaya setiap berudu seperti
kau mempunyai naluri alami untuk berenang. Hanya saja, kau belum tahu bagaimana
menggunakannya dengan baik.” –Ibu Macro tersenyum seraya mengusap puncak kepala
Micro.
Micro mengangguk setuju dengan pendapat
Ibunya barusan.
“bagaimana cara mengembangan naluri itu bu? Aku saja belum mengerti benar tentang hal-hal
yang memeengaruhi cara berenang seseorang. Seminggu yang lalu aku telah mencoba
memikirkannya bu, menurutku ada 5 unsur yang mempengaruhi cara berenang.” Kata
Micro.
“oh ya…? Apa iya kau telah
memikirkannya? Coba katakana pada Ibu 5 unsur itu.”
“air, arah aliran, hambatan seperti
bebatuan anak sungai, gerakan ekor dan dorongan tenaga bu.”
“ternyata anak Ibu memang pintar. Semua
yang kau sebutkan sangat tepat nak. Coba ceritakan pada Ibu kegagalan seperti
apa yang telah kau alami selama seminggu ini.”
Akhirnya
Micro menceritakan semuanya. Dari hari pertama ia mencoba hingga tadi siang ia
mencobanya lagi dan gagal lagi.
Ibu
Macro tersenyum dan berkata
“kau telah berusaha sejauh ini. Ingatlah nak, tidak
ada usaha yang sia-sia. Setiap usaha ada hasil yang kita dapatkan. Kegagalan
demi kegagalan akan membuatmu mampu bertahan sejauh ini. Kegagalan membuat mu
lebih kuat dari temanmu yang lainnya. kegagalan justru akan membuatmu menjadi
bintang yang bersinar nantinya.”
Ibunya diam sejenak, dan menatap Micro
penuh arti
“nak, kau melakukannya dengan baik tetapi belum bisa dikatakan
sangat baik. Kau telah melupakan 1 dari 5 unsur itu. Unsur penting yang mampu
membuat mu hanyut atau membuatmu mampu berenang dengan baik.”
“aku melupakan seseuatu bu?” Micro
mengernyitkan keningnya, dan meminta Ibunya melanjutkan penjelasan tadi.
“kau lupa akan kecepatan air anakku.
Kemarin kau hanya merasakan aliran air anak sungai dengan menggerakkan ekormu
sekiri dan kekanan, tapi kau lupa memperhitungkan kecepatannya. Kau hanya
melihat air perlahan meninggalkan tempatmu berdiam saat ingin memulai. Yang
diperlukan adalah perhitungan yang tepat tentang kecepatan air dan dorongan
tenagamu terhadap air –baik air yang berarus tenang, sedang, sampai air berarus
cepat.”
Setelah itu Micro tersadar dan memeluk
Ibunya erat sekali. Micro berpamitan pada Ibunya. Dan ia pergi ketempat
kegagalannya untuk menjemput keberhasilannya.
Sebuah kesimpulan tentang hal-hal yang
menentukan cara berenangnya. Telah ia dapatkan dari Ibunya. Akhirnya Micro mencobanya, perlahan dan pasti
ia melakukannya dengan mengkombinasikan 5 unsur cara berenang secara sempurna. Ekor
yang ia miliki, tenyata Tuhan telah memikirkan dengan jelas manfaatnya. Micro
bersyukur di dalam hatinya dan berkata “semakin cepat ekorku bergerak mengikuti
kecepatan air maka aku semakin jauh dari titik awal aku memulai, karena ekorku
dan air terus bekerja sama mendorongku hingga akhir tujuanku.”
Teman-teman Micro yang seminggu lalu
berenang dengannya kini melihat kemampuan Micro. Ia tercekat kanget dan hampir
terkena serangan jantung mendadak. Tara dan yang lainnya melihat Micro yang
berenang dengan santai, indah dan berirama seakan-akan ia sangat menikmati cara
berenangnya.
Berbagai gaya berenang ia lakukan,
teman-temannya mulai mendekat dan berenang bersama-sama. Seorang teman Micro yang lain bernama Rafa bertanya
“bagaimana bisa kau melakukan ini dengan sangat baik? yang aku tahu kau
hanyalah seekor perenang yang ceroboh.”
Micro tersenyum menanggapi hal
tersebut, baginya wajar bila saat ini teman-temannya heran atau bisa dikatakana
iri pada kemampuannya.
Micro menjelaskan kepada teman-temannya
tentang apa yang telah ia lakukan selama seminggu ini hingga saat ini ia bisa
berenang dengan baik.
Semua teman-temannya perlahan mengerti
dan menyadari suatu kesalahan yang telah terjadi pada fikiran dan perkataan
mereka. Tara membuka suara “aku meminta maaf kepadamu. Karena aku telah berfikir,
seminggu lalu hingga hari-hari berikutnya kau terus berenang dan terbentur
–membenturkan dirimu ke bebatuan. Itu karena kau frustasi dengan kemampuan
renang yang kau punya. Ternyata aku salah menilaimu. Selama waktu belalu dalam
seminggu ternyata kau telah memikirkan semua hal yang membuatmu mampu berubah
menjadi lebih baik dari kami.”
Teman Micro yang lainnya juga bersuara
“aku akui kemampuan yang kau punya sungguh luar biasa, hanya saja kemarin kau
belum tahu cara menggunakan kemampuanmu dengan baik. Seandainya kau tidak
berfikir kritis tentang dirimu, maka kemampuan renangmu yang luar biasa ini
tidak akan bisa kami lihat.”
Micro berkata dalam hatinya
“terima kasih Tuhan,
terima kasih Ibu.”
Micro lagi-lagi tersenyum, membenarkan
semua perkataan teman-temannya. Lalu, fikirannya melayang jauh mengenang
masa-masa lalu disaat ia menjadi perenang yang ceroboh. Lalu Micro tersadar
saat Rafa mengatakan dengan jelas dan lantang bahwa
“Micro si ceroboh telah
menjelma menjadi Micro si perenang hebat”.
Micro berterima kasih atas julukan baru
yang diberikan oleh teman-temannya. Micro dan teman-teman kembali kerumah
masing-masing karena hari telah menjelang petang. Di sepanjang perjalan pulang mereka terus menyenandungkan
kata-kata
“MICRO SI PERENANG HEBAT”.
Keesokan
harinya, seluruh desa tahu bahwa Micro anak dari Bapak dan Ibu Macro telah
terlahir kembali menjadi “perenang hebat”.
Micro: “keterbatasan dan kegagalan
bukan suatu hambatan untuk menjadi sukses,
terkadang keterbatasan dan
kegagalan
yang selalu dihina itu
menjadikan kamu lebih sukses dari yang
lainnya.”
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar