20 Mei, 2016

Rahasia Langit


Pernah suatu ketika. Angin jatuh cinta pada Hujan. Di waktu yang sama Daun begitu tenang merindukan Angin. Dalam lemah gemulai Pohon yang menanti. Berdansa dengan irama Alam. Tidak pernah Ia tahu bahwa Angin yang selalu menyapanya hanyalah mengharap Hujan jatuh. Selalu tentang Hujan. Bukan dirinya.
Ribuan tahun berlalu. Angin tetap saja tidak berpaling. Tidak pernah mencoba mencari tahu tentang hal selain Hujan. Hanya Hujan dan hujan. Tentang Daun? sekadar sapaan selamat pagi dan terkadang selamat malam. Hari-harinya habis untuk membujuk Hujan turun. Terkadang memberontak memaksa Hujan menemuinya.
Ribuan tahu pula Daun bersabar dengan rindunya. Tapi ternyata rindu itu tidak mengerti tentang sabar, ia dengan angkuh jutsru tumbuh membesar menjelma cinta dan sayang. Ternyata rindu yang terpendam, bila tulus di ajak sabar malah menjadi masalah hati yang sulit di obati. Merindu. Nelangsa. Merindu hingga perlahan binasa. Mencinta. Mati dalam hampa.
Ketika Daun mulai kehabisan waktu. Ia bertanya pada Pasir, pada Bebatuan, pada Burung terbang, pada mereka yang di temuinya sesaat akan gugur. “Salahkah rinduku?”. Pertanyaan yang tidak pernah terjawab oleh hatinya selama ini. Pasir diam, Bebatuan membisu. Sebab, tidak ingin Daun bersedih dengan jawaban mereka. Burung bilang, “Salah benar bukan ketentuanku. Hanya ketentuan Zat yang maha Tahu”.
Ternyata sejak awal Langit tahu Daun menaruh rasa pada Angin. Hingga hari ini, Langit pun tahu Daun telah putus asa. Sebelum Daun sempat menghempaskan tubuh pada keabadian. Langit meminta Hujan turun menyapa Angin menemui Daun. Bermainlah Angin dan Hujan dalam suka cita. Dalam ruang temu antara Bumi dan Langit yang tak berbatas. Tertebus sudah Rindu Angin pada Hujan.
Dalam derap langkah yang semakin cepat, Hujan pun mencuri detik-detik waktu saat menghempaskan tubuhnya. Menyentuh lembut hati sang Daun. Berbisik. “Rindumu tidak bersalah. Sebab, rasamu tumbuh begitu  tulus dan ikhlas. Anginlah yang terlalu lemah oleh cintanya padaku hingga tidak menyadari dirimuyang mencinta”.
Dibalik cinta Angin yang selalu tercurah untukku. Ketahuilah sebuah rahasia. Aku tidak pernah benar-benar ingin bersamanya. Aku hanya datang, sebab Ia murka. Ia lah yang selalu memaksaku turun. Aku tidak benar-benar cinta. Ini semua permintaan Langit. Sebab, Langit ingin menghukum Angin yang tidak pernah menyadarimu. Dengan sebuah kehilangan”.
Hingga bertahun-tahun lamanya setelah rahasia itu terbongkar. Hujan tidak pernah datang. Ia menetap di atas sana, menghibur Langit. Yang bersedih. Sebab ia terlalu kehilangan. Kehilangan Daun yang di cintainya. Angin? Menyesal sepanjang tahun. Karena merasa telah memiliki Hujan. Padahal Ia tahu Hujan tidak pernah benar-benar turun untuk menemuinya. Angin pun terus mengutuk dirinya, sebab merasa bodoh telah menyia-nyiakan Daun. Yang telah pergi.