Pernah
suatu ketika. Angin jatuh cinta pada Hujan. Di waktu yang sama Daun begitu
tenang merindukan Angin. Dalam lemah gemulai Pohon yang menanti. Berdansa dengan
irama Alam. Tidak pernah Ia tahu bahwa Angin yang selalu menyapanya hanyalah
mengharap Hujan jatuh. Selalu tentang Hujan. Bukan dirinya.
Ribuan
tahun berlalu. Angin tetap saja tidak berpaling. Tidak pernah mencoba mencari
tahu tentang hal selain Hujan. Hanya Hujan dan hujan. Tentang Daun? sekadar
sapaan selamat pagi dan terkadang selamat malam. Hari-harinya habis untuk
membujuk Hujan turun. Terkadang memberontak memaksa Hujan menemuinya.
Ribuan
tahu pula Daun bersabar dengan rindunya. Tapi ternyata rindu itu tidak mengerti
tentang sabar, ia dengan angkuh jutsru tumbuh membesar menjelma cinta dan
sayang. Ternyata rindu yang terpendam, bila tulus di ajak sabar malah menjadi
masalah hati yang sulit di obati. Merindu. Nelangsa. Merindu hingga perlahan
binasa. Mencinta. Mati dalam hampa.
Ketika
Daun mulai kehabisan waktu. Ia bertanya pada Pasir, pada Bebatuan, pada Burung
terbang, pada mereka yang di temuinya sesaat akan gugur. “Salahkah rinduku?”. Pertanyaan yang tidak pernah terjawab oleh
hatinya selama ini. Pasir diam, Bebatuan membisu. Sebab, tidak ingin Daun
bersedih dengan jawaban mereka. Burung bilang, “Salah benar bukan ketentuanku. Hanya ketentuan Zat yang maha Tahu”.
Ternyata
sejak awal Langit tahu Daun menaruh rasa pada Angin. Hingga hari ini, Langit
pun tahu Daun telah putus asa. Sebelum Daun sempat menghempaskan tubuh pada keabadian.
Langit meminta Hujan turun menyapa Angin menemui Daun. Bermainlah Angin dan Hujan
dalam suka cita. Dalam ruang temu antara Bumi dan Langit yang tak berbatas. Tertebus
sudah Rindu Angin pada Hujan.
Dalam
derap langkah yang semakin cepat, Hujan pun mencuri detik-detik waktu saat
menghempaskan tubuhnya. Menyentuh lembut hati sang Daun. Berbisik. “Rindumu tidak bersalah. Sebab, rasamu tumbuh
begitu tulus dan ikhlas. Anginlah yang
terlalu lemah oleh cintanya padaku hingga tidak menyadari dirimuyang mencinta”.
“Dibalik cinta Angin yang selalu tercurah untukku. Ketahuilah sebuah
rahasia. Aku tidak pernah benar-benar ingin bersamanya. Aku hanya datang, sebab
Ia murka. Ia lah yang selalu memaksaku turun. Aku tidak benar-benar cinta. Ini
semua permintaan Langit. Sebab, Langit ingin menghukum Angin yang tidak pernah
menyadarimu. Dengan sebuah kehilangan”.
Hingga
bertahun-tahun lamanya setelah rahasia itu terbongkar. Hujan tidak pernah
datang. Ia menetap di atas sana, menghibur Langit. Yang bersedih. Sebab ia
terlalu kehilangan. Kehilangan Daun yang di cintainya. Angin? Menyesal
sepanjang tahun. Karena merasa telah memiliki Hujan. Padahal Ia tahu Hujan
tidak pernah benar-benar turun untuk menemuinya. Angin pun terus mengutuk
dirinya, sebab merasa bodoh telah menyia-nyiakan Daun. Yang telah pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar