26 April, 2016

Menjemput Angkuh



Bagian 1

Ibu Percaya Padamu, Anak ku Sayang.
            Aku tua renta yang tak punya harta benda. Menjual kerupuk kulit demi menyambung hidup. Di desa yang jauh dari kemegahan Dunia. Sedang anak ku kini belajar di Kota. Kata penduduk di sini nama kota itu adalah “Kota Bertuah”.
Tak apa, aku di sini bekerja tanpa kenal lelah, mengais rezeki dari pagi hingga petang. Ini semua untuk anak ku sayang. Agar kelak di masa mendatang, ia punya masa depan yang lebih cemerlang karena pendidikan. Tak mengapa, aku bekerja seorang diri, bertahan tanpa suami, agar anak ku sayang menjadi “Orang” di negeri seberang. Pun tak mengapa, masa tua ku habis di gubuk reot ini, masa tua ku habis di balik terik mentari dan dinginnya malam, hingga kelam dan tanah bebatuan merengkuh tubuh ringkih ini ke perut bumi, untuk anaku ku sayang, aku berjuang dan bertahan hidup hanya karena kalian. Sepasang darah dagingku di kota orang.
Jadilah seperti yang ibu banggakan. Meski tak pernah sedikit pun kalian bangga memiliki ibu yang tak seperti ibu teman-teman kalian, yang cantik, kaya, dan berpendidikan. Jadilah seperti yang ibu banggakan. Meski tak ada terucap nama ibu di setiap waktu kalian bercerita banyak hal pada teman-teman kalian. Jadilah seperti yang ibu banggakan. Meski tak pernah ada terselip nama ibu dalam do’a-do’a kalian.
            Anak ku sayang, hari ini ibu membuat 100 bungkus kerupuk kulit. Hingga pukul empat sore. Telah terjual 50 bungkus. Ibu beristirahat sebentar di warung buk Hasnah. Di sana ada teman seusia mu yang juga kuliah di kota. Pulang ke kampung untuk bertemu, dan berpeluk rindu dengan keluarga mereka. Ibu teringat padamu, mengapa anak ku sayang tak pulang ke pangkuan ibu? Yang ibu dengar dari teman-temanmu, sekarang perkuliahan sedang libur. Apa anakku sayang tak merindukan si tua renta ini?
            Selang 15 menit ibu duduk beristirahat di warung buk hasnah, ibu segera akan melangkah pulang. Tapi, langkah kaki ibu tercegat oleh percakapan mirna dan buk hasnah.
“Buk, kasihan ya ibu retno, berjualan dengan susah payah di kampung ini. Sementara di Pekanbaru Riri berfoya-foya setiap saat bersama teman-temannya”.
“Berfoya-foya Mir?”
“iya buk, Riri itu jarang sekali masuk kuliah, setahu Mirna, dia jarang masuk kuliah karena jalan-jalan keliling pekanbaru terus buk, ada saja teman yang menjemputnya ke kos buk, entah itu cowok dengan motor gede, ataupun tema-teman ceweknya dengan mobil-mobil mereka”.
“Ya Allah, Riri. Gak tahu diri sekali jadi anak. Kasihan ya buk Retno Mir, bahkan sekarang saat kalian libur kuliah saja dia tidak pulang ke kampung ini”.
            Kaki ibu lemas, dada ibu sesak, tapi ibu tak bisa terus berdiam diri di sana mendengarkan Mirna dan Buk Hasnah berbicara yang tidak-tidak tentang mu Riri. Telinga ibu terlanjur pekak, ibu melanjutkan perjalanan pulang kerumah, dengan langkah terseok-seok dan menangis dalam diam. Mungkin kah anak ku sayang melakukan semua hal seperti yang Mirna ceritakan pada buk Hasnah? Hati ibu setengah percaya setengah tidak, nak. Tapi ibu tetap pada tekad awal sejak kau pamit belajar ke kota. Mempercayaimu seutuhnya. Tak peduli tetangga kiri kanan berkata apapun tentang dirimu.
Yang ibu tahu, anak ku sayang kini sedang belajar dengan baik di negeri seberang. Kini tak pulang ke kampung halaman karena banyak tugas kuliah yang harus di selesaikan. Sesuai dengan isi pesan singkatmu pada ibu 10 menit yang lalu.
Seketika air mata ibu berganti harapan. Berharap kau selalu baik-baik saja di sana, nak. Belajar dengan sungguh. Bukan berfoya-foya seperti kata Mirna. Ibu percaya pada mu, anak ku sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar