26 April, 2016

ARLOJI TANDA DUKA



Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat hari ulang tahun, selamat ulang tahun. Daren, bangun nak, ibu bawakan kue dan sesuatu yang Daren inginkan.
Aku terbangun, ku lihat ibu duduk di tepi ranjangku dengan kedua tangan membawa sebuah kue ulang tahun. Di atas meja kecil di samping ranjang, ku lihat ada sebuah kotak kecil persegi empat berbungkus kado berwarna merah polos. Masih dalam posisi tidur, sambil mengucek mata, aku bertanya pada ibu.
“Ini tanggal berapa bu?”
“1 januari” jawab ibu tersenyum.
Aku segera bangkit, Bukannya meniup lilin yang sudah meleleh pada kue, aku justru meraih kotak merah itu, aku mulai membuka bungkus kotak. Aku penasaran apa isi di dalamnya. Hadiah apa yang ibu berikan di ulang tahun ku kali ini. Sementara ibu terus tersenyum melihat ku. Di tahannya tangan  kanan ku yang sedikit lagi akan membuka kotak.
Tiup lilin nya dulu nak”
Setelah mengucapkan beberapa permohonan, aku meniup lilin. Ku lanjutkan membuka kado pemberian ibu. Melihat isi nya, ku peluk ibu dengan sangat erat, hingga ibu kesulitan bernafas dan tangannya kewalahan memegang kue.
“ibu, terimakasih untuk jam tangannya, Daren sangat suka hadiah dari ibu. Ini kan jam yang Daren pengen beli dari seminggu yang lalu, Daren sayang ibu”
Setelah itu ku lepas pelukan dan secepat kilat ku kecup pipi kiri ibu.
Ibu tersenyum, ia meletakkan kue di tempat ia meletak kado tadi. Perlahan ibu pergi dari kamarku tanpa berkata. Ku raih tanggan ibu yang mulai menjauh, tak tergapai. Aku bangkit dari tempat tidur, mengejar ibu yang semakin mendekati pintu kamar. Ku peluk ibu dari belakang. Tidak bisa. Aku tidak merasakan apa-apa. Aku mnenembus raga ibu. Hingga ku lihat ibu menembus pintu kamarku.
“ibuuuuuuu….”
Aku terbangun dari tidur siangku, aku bangkit mengatur ritme pernafasanku. Keringat mengalir di kedua pelipis. Hanya aku seorang diri di kamar seperti biasanya, tak ada ibu
Aku rindu ibu.”
Saat menoleh ke kiri, betapa kagetnya aku ketika melihat sebuah kue dengan lilin-lilin yang sudah padam dan sebuah kotak kecil persegi berbungkus kado warna biru polos. Persis seperti di dalam mimpi. Di atas meja kecilku. Ku lihat kalender kecil di sana.
“1 januari? kue? Jam tangan? Ibu datang untuk ulang tahunku yang ke 17 ini. Meninggalkan aku lagi dan pergi begitu saja? Aku rindu ibu. Aku rindu kebersamaan kita sepuluh tahun yag lalu, sebelum kecelakaan yang merenggut nyawa ibu”
***
Detik terus berputar mengubah menit. Menit bergerak mengubah jam. Jarum pendek lebih sedikit dari angka 3, jarum panjang sedetik lagi tepat di angka 3. Dini hari di minggu terakhir hari jum’at bulan Januari.
Seorang pemuda tampak tertidur pulas di pagi buta ini. Ranjang miliknya terlihat rapi. Ia tidur tak banyak gerak. Tidur terlentang dengan kedua tangan terlipat seperti orang shalat, dilengkapi sebuah bantal kapuk bersarung biru sebagai alas, agar kepala lebih tinggi dari dada. Serta guling di sebelah kanannya, membatasi ia dengan ranjang bagian kiri yang tak direbahi raga.
Daren terjaga dari tidur lelapnya ketika mendengar adzan subuh berkumandang di masjid yang tak jauh dari rumah. Masih dalam posisi terlentang, ia angkat tangan kiri yang dilingkari jam tangan kulit berwarna coklat tepat di atas mata. Kebiasaan seorang Daren semenjak 1 januari ialah selalu menggunakan jam tangan saat tidur. Jam tangan pemberian ibu tercinta. Jam menunjukkan pukul 03:15.
Adzan jam segini?,” tanyanya pada diri sendiri.
Daren bangkit dari ranjangnya, berjalan menuju pintu, membukanya, kemudian ia melangkah lurus menuju ruang keluarga. Di tatapnya jam dinding di sisi kiri ruang tersebut. Jam menunjukkan pukul 04:52.
“sepertinya jam tangan ku kehabisan batrai”,
Daren berbalik kemudian berbelok ke kiri menuju kamar mandi. Mengambil handuk yang tergantung di samping kiri pintu kamar mandi, ia ingin membersihkan diri kemudian berwudhu. Setelah selesai, ia kembali kekamar berganti pakaian dan menunaikan kewajiban shalat subuh.
            Setelah itu, Daren keluar rumah, jalan-jalan pagi di sekitar kompleks perumahan. Ini aktivitas rutin seorang Daren di setiap pagi. Berlomba menghirup udara segar dengan orang-orang yang mencintai pagi hari.
            Langkah Daren terhenti, biasanya rumah ini selalu sepi setiap kali Daren keliling kompleks. Namun kali ini, rumah Raka terlihat ramai. Raka adalah teman masa kecil daren yang sekarang juga teman satu kampus, tetapi beda kelas. Duka menyelimuti rumah tersebut, ada bendera putih di depan pagar.
Siapa yang meninggal pak?,” Tanya daren pada seorang tetangga yang sedang duduk di kursi pelayat depan rumah.
“Raka nak,” jawab bapak tersebut.
“Raka? gak, gak mungkin pak, tadi malam raka baik-baik saja waktu nelpon saya,” jawab daren kaget.
***
Assalamu’alaikum Ka,” jawab daren menggangkat telpon teman masa kecilnya.
Wa’alaikumussalam Ren. Keluar yuk, gue suntuk di rumah. Gak ada siapa-siapa.”
“Yah, maaf Ka, ini udah jam berapa? gue capek banget, tadi gue masuk sampai jam 4 sore, pulang pulang gue harus ngerjain laporan, nah besok gue masuk jam 8. Gak sanggup gue kalau harus keluar jam 12 malam gini. Besok lo gak masuk?”
Enggak Ren, gue free. ya udah, lo istirahat aja. Gue ngajak Gio deh, assalamu’alaikum”
Wa’alaikumussalam, maaf ya Ka,” tutup daren mengakhiri pembicaraan mereka di telpon.
***
Kalau nak Daren tidak percaya, masuk saja ke dalam”.
Kata bapak tersebut membuyarkan lamunan Daren mengingat tadi malam raka menelponnya.
            Daren melangkahkan kaki menuju pintu duka, dari pintu tersebut di lihatnya sebuah jasad terbujur ditutupi kain panjang. Di samping kiri jasad tersebut tampak kedua orang tua Raka. mama Raka tak henti-hentinya memeluk jasad anaknya sambil menangis terisak. Sedang papa Raka, tampak tegar menenangkan istrinya.
            Para tetangga dan pelayat lainnya, menyaksikan kedua orang itu dengan mulut bisu. Membiarkan mereka dengan rasa kehilangan. Sebelum jasad tersebut di kebumikan. Sedang seorang pembantu di rumah ini, sibuk mandar-mandir menyambut orang yang datang dan menyilahkannya masuk.
“Asalamu’alaikum,” ucap daren sebelum masuk.
Wa’alaikumussalam, masuk nak Daren,” ucap papa Raka menyambut teman masa kecil anaknya.
“Om, ini beneran Raka?”
Iya Ren” jawab om Piyu tak berekspresi.
“Raka tadi malam keluar sama Gio. Terus, setelah ngantar Gio, pas mau pulang ke rumah, Raka kecelakaan. Tabrakan dengan mobil. Raka meninggal di tempat. Sedang mobil yang nabrak Raka kabur, sekarang lagi di cari polisi.”
Ya Allah, jam berapa kejadiannya om?
Jam 3:15 dini hari Ren”
Om, Daren turut berduka cita ya, somoga amal ibadah Raka di terima di sisi-Nya”
Iya Ren, om juga berharap begitu,”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar