Selamat
ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat hari ulang tahun, selamat ulang
tahun. Daren, bangun nak, ibu bawakan kue dan sesuatu yang Daren inginkan.
Aku terbangun, ku lihat ibu duduk di
tepi ranjangku dengan kedua tangan membawa sebuah kue ulang tahun. Di atas meja
kecil di samping ranjang, ku lihat ada sebuah kotak kecil persegi empat
berbungkus kado berwarna merah polos. Masih
dalam posisi tidur, sambil mengucek mata, aku bertanya pada ibu.
“Ini tanggal berapa bu?”
“1 januari” jawab ibu tersenyum.
Aku segera bangkit, Bukannya meniup
lilin yang sudah meleleh pada kue, aku justru meraih kotak merah itu, aku mulai
membuka bungkus kotak. Aku penasaran apa isi di dalamnya. Hadiah apa yang ibu
berikan di ulang tahun ku kali ini. Sementara ibu terus tersenyum melihat ku. Di
tahannya tangan kanan ku yang sedikit
lagi akan membuka kotak.
“Tiup
lilin nya dulu nak”
Setelah mengucapkan beberapa
permohonan, aku meniup lilin. Ku lanjutkan membuka kado pemberian ibu. Melihat
isi nya, ku peluk ibu dengan sangat erat, hingga ibu kesulitan bernafas dan
tangannya kewalahan memegang kue.
“ibu, terimakasih untuk jam tangannya,
Daren sangat suka hadiah dari ibu. Ini kan jam yang Daren pengen beli dari
seminggu yang lalu, Daren sayang ibu”
Setelah itu ku lepas pelukan dan secepat kilat ku kecup pipi
kiri ibu.
Ibu tersenyum, ia meletakkan kue di
tempat ia meletak kado tadi. Perlahan ibu pergi dari kamarku tanpa berkata. Ku
raih tanggan ibu yang mulai menjauh, tak tergapai. Aku bangkit dari tempat
tidur, mengejar ibu yang semakin mendekati pintu kamar. Ku peluk ibu dari
belakang. Tidak bisa. Aku tidak merasakan apa-apa. Aku mnenembus raga ibu.
Hingga ku lihat ibu menembus pintu kamarku.
“ibuuuuuuu….”
Aku terbangun dari tidur siangku, aku
bangkit mengatur ritme pernafasanku. Keringat mengalir di kedua pelipis. Hanya
aku seorang diri di kamar seperti biasanya, tak ada ibu
“Aku rindu ibu.”
Saat menoleh ke kiri, betapa kagetnya
aku ketika melihat sebuah kue dengan lilin-lilin yang sudah padam dan sebuah
kotak kecil persegi berbungkus kado warna biru polos. Persis seperti di dalam
mimpi. Di atas meja kecilku. Ku lihat
kalender kecil di sana.
“1 januari? kue? Jam tangan? Ibu datang
untuk ulang tahunku yang ke 17 ini. Meninggalkan aku lagi dan pergi begitu
saja? Aku rindu ibu. Aku rindu kebersamaan kita sepuluh tahun yag lalu, sebelum
kecelakaan yang merenggut nyawa ibu”
***
Detik terus berputar mengubah menit.
Menit bergerak mengubah jam. Jarum
pendek lebih sedikit dari angka 3, jarum panjang sedetik lagi tepat di angka 3.
Dini hari di minggu terakhir hari jum’at bulan Januari.
Seorang pemuda tampak tertidur pulas di
pagi buta ini. Ranjang miliknya terlihat rapi. Ia tidur tak banyak gerak. Tidur
terlentang dengan kedua tangan terlipat seperti orang shalat, dilengkapi sebuah
bantal kapuk bersarung biru sebagai alas, agar kepala lebih tinggi dari dada. Serta
guling di sebelah kanannya, membatasi ia dengan ranjang bagian kiri yang tak
direbahi raga.
Daren terjaga dari tidur lelapnya
ketika mendengar adzan subuh berkumandang di masjid yang tak jauh dari rumah.
Masih dalam posisi terlentang, ia angkat tangan kiri yang dilingkari jam tangan
kulit berwarna coklat tepat di atas mata. Kebiasaan seorang Daren semenjak 1
januari ialah selalu menggunakan jam tangan saat tidur. Jam tangan pemberian
ibu tercinta. Jam menunjukkan pukul 03:15.
“Adzan
jam segini?,”
tanyanya pada diri sendiri.
Daren bangkit dari ranjangnya, berjalan
menuju pintu, membukanya, kemudian ia melangkah lurus menuju ruang keluarga. Di
tatapnya jam dinding di sisi kiri ruang tersebut. Jam menunjukkan pukul 04:52.
“sepertinya jam tangan ku kehabisan
batrai”,
Daren berbalik kemudian berbelok ke kiri
menuju kamar mandi. Mengambil handuk yang tergantung di samping kiri pintu
kamar mandi, ia ingin membersihkan diri kemudian berwudhu. Setelah selesai, ia
kembali kekamar berganti pakaian dan menunaikan kewajiban shalat subuh.
Setelah
itu, Daren keluar rumah, jalan-jalan pagi di sekitar kompleks perumahan. Ini
aktivitas rutin seorang Daren di setiap pagi. Berlomba menghirup udara segar
dengan orang-orang yang mencintai pagi hari.
Langkah
Daren terhenti, biasanya rumah ini selalu sepi setiap kali Daren keliling
kompleks. Namun kali ini, rumah Raka terlihat ramai. Raka adalah teman masa
kecil daren yang sekarang juga teman satu kampus, tetapi beda kelas. Duka
menyelimuti rumah tersebut, ada bendera putih di depan pagar.
“Siapa
yang meninggal pak?,” Tanya daren pada seorang tetangga yang sedang duduk di
kursi pelayat depan rumah.
“Raka nak,” jawab bapak tersebut.
“Raka? gak, gak mungkin pak, tadi malam
raka baik-baik saja waktu nelpon saya,” jawab daren kaget.
***
“Assalamu’alaikum
Ka,” jawab daren menggangkat telpon teman masa kecilnya.
“Wa’alaikumussalam
Ren. Keluar yuk, gue suntuk di rumah. Gak ada siapa-siapa.”
“Yah, maaf Ka, ini udah jam berapa? gue
capek banget, tadi gue masuk sampai jam 4 sore, pulang pulang gue harus
ngerjain laporan, nah besok gue masuk jam 8. Gak sanggup gue kalau harus keluar
jam 12 malam gini. Besok lo gak masuk?”
“Enggak
Ren, gue free. ya udah, lo istirahat
aja. Gue ngajak Gio deh, assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam,
maaf ya Ka,” tutup daren mengakhiri pembicaraan mereka di telpon.
***
“Kalau
nak Daren tidak percaya, masuk saja ke dalam”.
Kata bapak tersebut membuyarkan lamunan
Daren mengingat tadi malam raka menelponnya.
Daren
melangkahkan kaki menuju pintu duka, dari pintu tersebut di lihatnya sebuah
jasad terbujur ditutupi kain panjang. Di samping kiri jasad tersebut tampak
kedua orang tua Raka. mama Raka tak henti-hentinya memeluk jasad anaknya sambil
menangis terisak. Sedang papa Raka, tampak tegar menenangkan istrinya.
Para
tetangga dan pelayat lainnya, menyaksikan kedua orang itu dengan mulut bisu.
Membiarkan mereka dengan rasa kehilangan. Sebelum jasad tersebut di kebumikan.
Sedang seorang pembantu di rumah ini, sibuk mandar-mandir menyambut orang yang
datang dan menyilahkannya masuk.
“Asalamu’alaikum,” ucap daren sebelum
masuk.
“Wa’alaikumussalam,
masuk nak Daren,” ucap papa Raka menyambut teman masa kecil anaknya.
“Om, ini beneran Raka?”
“Iya
Ren” jawab om Piyu tak berekspresi.
“Raka tadi malam keluar sama Gio.
Terus, setelah ngantar Gio, pas mau pulang ke rumah, Raka kecelakaan. Tabrakan
dengan mobil. Raka meninggal di tempat. Sedang mobil yang nabrak Raka kabur,
sekarang lagi di cari polisi.”
“Ya
Allah, jam berapa kejadiannya om?
“Jam
3:15 dini hari Ren”
“Om,
Daren turut berduka cita ya, somoga amal ibadah Raka di terima di sisi-Nya”
“Iya
Ren, om juga berharap begitu,”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar