26 Januari, 2017

Manakala

Manakala hati selalu berpulang akan cinta dan kepedulian.
Tentu tiada pertikaian.
Dan Semesta akan damai.

Tapi, hidup 'kan membosankan.
Karena seluruh manusia lurus menujuNya.
Lalu, apa gunanya neraka di ciptakan?

Bagi yang saling membenci dan tak peduli terhadap sesama.

Hanya Bila...

"Jika cinta tidak gila maka tidak normal"

Saat harusnya sedih kau justru bahagia, sudah waktunya menangis kau justru tertawa, tiba masa kecewa kau justru merasa begitu bangga

Cinta yang sesungguhnya
Hanya bila...

Ia timpakan padamu sakit. kau akan berterimakasih padaNya.
Sebab Ia sayang padamu, di gugurkannya dosa-dosa atas rasa sakit itu.

Ia titipkan kehidupan miskin melarat di Dunia. kau akan berterimakasih padaNya.

Sebab tak banyak benda yang harus kau pertanggungjawabkan pada akhir masa.

Ketika kau meminta ini Ia beri itu. kau akan berterimakasih padaNya.
Sebab Ia tahu jalan terbaik untukmu. Ia punya skenario terbaik.

Ketahuilah, setiap rasa syukurmu menjadi satu anak tangga menujuNya.
Yang Maha Tinggi.

Tentang Kematian

Berhembus sudah.
Terhembus jauh.
Menuju langit diatas langit
Melewati awan, bintang-bintang
Dan purnama.
Di kala angin malam,
Diam-diam
Dingin
Menusuk
Membekukan.
Kabar berita,
Tentang kematian.
Bergema
Menohok
Menghujam
Membuat bisu
Lalu gaduh
Ada yang terisak
Tak menduga
Malam ini terjadi sebuah peristiwa
Yang disebut manusia
"Kehilangan"
Lalu berteriak pada waktu.
Kemanakah harus mencari?
Bila dia tak bisa ditemukan lagi.
Kemana harus mencari?
Bila jejaknya kan terhenti pada gundukan tanah di bawah tanah.
Kemanakah harus mencari?
Saat rindu mengundang kenangan?

Pada DIA Yang Maha Memiliki semesta.
Jawab Sang Qalbu.

Sungguh, Dia suka memanggil tanpa pamit. Tiada yang lebih menyakitkan dibandingkan kematian.
Bukankah hidup harus terus berjalan?

Kawan,
Teruslah membaik, sampai waktumu tiba.

Ini Kisah Tentang Hujan


Mendadak langit cerah bertukar gelap
Sebab angin meniup awan putih
Mengganti tirai langit tuk sejenak.
Perlahan rintik turun.
Mengenai kaca mobil supir taksi.
Mengenai tangan tukang ojek.
Mengenai wajah pejalan kaki.
"Yahhh, hujan."
"Duh, gak bawa mantel. Kayaknya bakalan awet nih"
"Hujan lagiii, hujan lagiii, bisa bisa jemuran di rumah gak kering-kering"

Andai kau tahu proses langit menurunkan berkah ini,
Masihkah kau mengutuk air yang turun?
Yang kan menghidupi seluruh makhluk.

Air yang tergenang menguap oleh panas.
Menuju awan putih saat terik.
Lama-lama awan dipenuhi air, menjadi berat, kemudian berubah kelabu.
Saat awan sudah tidak sanggup menahan air.
Dengan bantuan angin, rintik pun berjatuhan.
Membasahi rumput dan ilalang.
Membasahi jalan raya.
Membasahi rambut kita.
Peristiwa ini kita sebut hujan.
Jangan anggap ia jatuh dengan mudah.
Ia jatuh setelah langit berdiskusi dengan Penguasa Alam.
Lalu mendapat restu.

Kawan,,, hiduplah dengan baik.
Bukan bagaimana kita mengutuk hujan yang turun saat harus beraktivitas di luar rumah. Tapi bagaimana kita menari bersamanya. Tertawa dan bersyukur dalam rintik.

Bukankah saat berkah ini tidak di turukan dalam waktu berbulan-bulan, kau merengek minta Tuhan menurunkannya.
Sebab kau benci kemarau dan air keruh?
Lalu kenapa lupa bersyukur saat hujan turun berhari-hari?