30 Oktober, 2015

Dalam Ingatan

Meski jerebu itu masih ada.
Setidaknya aku punya kenangan indah tentang langit biru.
Dalam ingatan.
Saat aku tertawa bersama teman
Saat aku tersenyum mengiringi pergerakan awan
Bahkan saat aku terdiam menatap langit yang perlahan kelam bersama senja.

Hilang

Jiwa jiwa pengecut dan penjilat
jiwa jiwa yang tega mengubah tujuan
jiwa jiwa yang mau di suap tahta
Jiwa jiwa yang ikut ikutan saja
kapan kau menjadi seorang yang jujur dan berbudi pekerti
kapankah kau menjadi yang pertama mengemban amanah dengan ikhlas
kapankah kau menjadi yang pertama menolak sogokan dolar maupun rupiah
kapankah kau sadar bahwa dirimu bukanlah robot yang bisa di kendalikan banyak tangan
seharusnya kau punya prinsip hidup kawan
seharusnya kau bisa jujur pada dirimu sendiri
seharusnya kau tak membela diri jika bersalah
seharusnya kau terima segala penghargaan maupun hukuman
jangan putar balikkan fakta
jangan mainkan opini publik
jangan racun otak bangsa dengan cara cara culas.
jangan jadi yang terdepan untuk menghancurkan masa depan
jutaan umat tak berdosa.
Jangan baris di garis start.
Jika kau tak pernah ingin ke garis finish.
Dan sekali lagi hanya untuk ikut ikutan.
Yang kekinian.
Habislah sudah kau di musnahkan oleh do'a terbaik mereka yang tertindas kekuasaan.
Hilang.

Berhijrahlah

Berhijrahlah jika memang kau ingin,
bukan karena sesiapa.
Tapi karena hatimu sendiri
jadilah yang terbaik untuk yang terbaik
semoga kelak kau dapatkan cinta yang hakiki
jika kau tak sanggup meninggalkan semua keburukan masa lalu
kau tak akan berhijrah walau sejengkal
Jika kau sudah mantapkan hati.
Berhijrah sejauh apapun jua tak akan terasa.
Karena peluhmu terbayarkan oleh kedamaian hati.
Berhijrahlah.
Semoga kau menjadi pribadi yang lebih baik.
dan terus membaik.
Hingga seluruh kebaikanmu menghapus keburukan yang tlah lalu.

Catatan Kecil. 26 Oktober 2015

Seolah Tuhan Merestui

Seolah Tuhan merestui aksi damai ini
cuaca tidak panas sejak pagi
siang, cuaca agak mendung
siang menjelang sore
Hanya rintik-rintik air langit yang turun
ketika Plt. Gubernur Riau menampakkan batang hidungnya di hadapan ribuan mahasiswa
Cuaca cerah kembali
hingga sore menjelang magrib
massa membubarkan diri
cuaca pun masih bersahabat
dan ketika massa istirahat di rumah masing-masing
tidur pun di iringi alunan suara rintik hujan yang damai.
Kepada hari ini.
Aksi ini.
Luar Biasa
Terimakasih Tuhan

Sekolah Kami, Kami Rindu

Dear,
Siswa siswi yang merindukan sekolah

Sekolah kini bukan lagi tempat tatap muka guru dan murid
sekolah kini bukan lagi tempat bermain bersama teman-teman sekelas
sekolah kini bukan lagi tempat makan bersama di kantin sekolah
sekolah kini bukan lagi tentang di jemput papa, mama ataupun kakak
sekolah kini bukan lagi tempat menghabiskan waktu setengah hari
Bahkan sehari pun tidak
sekolah kini hanya tempat para orang tua menjemput tugas untuk anak-anak mereka
sekolah kini hanya tempat absen kehadiran guru-guru
sekolah kini hanya tentang lembar-lembar LKS yang harus dikerjakan dari hari ke hari
sekolah kini hanya di huni oleh jerebu
sekolah kami,
Kami rindu

Yang Katanya Kaya

#MelawanAsap
#SumpahMelawanAsap
#SumpahPemuda

Ini aksi damai, Bukan demo anarkis
yang terpenting tujuan tercapai
bukan datang lalu pergi sia-sia
ini tentang panggilan hati
bukan keterpaksaan
ini tentang kesetiaan dalam perjalanan
bukan yang setengah-setengah
ini tentang kebersamaan
Bukan pecah belah
tanpa embel-embel organisasi
tapi atas nama civitas Akademik UIN Suska
ini tentang aksi pertamaku
yang sangat merasa perlu ikut
karena aku ingin melawan
bukan mati perlahan
ini tentang agent of change
bukan tentang ikut-ikutan
ini tentang kemnnusiaan
bukan mainan
ini tentang masa depan anak cucu
bukan menghabiskan hutan
ini tentang aspirasi
bukan konspirasi
ini tentang Aku, Kau dan Mereka
yang telah muak dan jijik dengan asap
ini tentang Aku, Kau dan Mereka
yang telah kenyang bahkan mati karena asap
ini tentang Aku, Kau dan Mereka
Yang ingin di dengarkan
Bukan di abaikan
ini tentang jerebu dan Bumi Lancang Kuning
Yang katanya kaya
Yang katanya kaya
Yang katanya kaya
Yang katanya kayak pembunuhan berantai, sistematis, masif dan terencana.

Terlelap

Bangunkan jiwa-jiwa yang telah terlelap lama itu.
Bangunkan bangkai-bangkai yang hanya puas dengan janji-janji kampanye
bangunkan manusia-manusia intelektual, agar dapat mengaum lebih keras.
Singa yang telah lama mengintai mangsa,
hari ini keluar dari persembunyian
untuk menerkam seluruh mulut-mulut penuh dusta
untuk mencabik hati-hati yang kotor
untuk memakan kepala-kepala dengan otak udang
untuk kemudian memuntahkan isi perut, yang tidak sudi di isi dengan janji baru yang telah terucap.
Buktikan omongan anda
jika benar anda seorang yang amanah
satu tahun kemudian
kami akan kembali.
Jika bangkai kalian masih duduk manis
menikmati penderitaan rakyat ini
jerebu dan singa yang siap mengaum hingga ke langit biru.
Salam riau merdeka

Apa?

Apa yang mampu kau lakukan ketika tubuh telah kaku?
Nothing!
Apa yang mampu kau lakukan ketika darah masih mengaliri tubuh?
Everything!
lakukanlah semua.
Lakukan semasa jiwa tenggelam dalam raga
lakukanlah karena cinta
untuk dirimu
dan Dunia
Menulislah.
agar umurmu sepanjang umur Dunia
meski nanti tubuhmu telah kaku dan jiwamu telah terbang
gagasanmu akan terus hidup
dalam jiwa-jiwa baru
dan ketika kau nanti menghilang
jejakmu masih tetap tertinggal
dalam buku-buku
dalam lubuk sanubari yang berilmu

Sekali Aku Mampu

Ini bukan tentang kau
ini tentang aku
ini bukan cita-citamu
ini cita-citaku
aku tak peduli kau berkomentar
aku tak peduli kau menghalang
aku pun tak peduli kau mengatur
aku akan tetap melakukan
Semuanya
apapun yang ku suka
apapun yang ku mau
bahkan jika aku menginginkan Dunia
aku pun tak peduli kau berkata
"Kau tak akan bisa!"
yang ku tahu
kesungguhan dan hasil akan selalu berbanding lurus
sekali aku mampu
Kau akan terdiam
sekali aku mampu
kau akan tercengang
sekali aku mampu
kau akan bertepuk tangan
Atas kesuksesanku

Secuil Puisi Kehidupan

Melihat
mendengar
dan merasakan
setiap perubahan di sekelilingmu
mencermati
memahami
Dan menghayati
maksud alam di setiap waktumu
ambil seluruh pesan Tuhan yang tersirat
simpan untuk dirimu
abadikan dalam bukumu
dan bagikan ceritamu
agar seluruh dunia tahu
Kisah tentang kau dan alam semu
kita hidup berbatas umur
kita melangkah sepelemparan batu
untuk kemudian jatuh bersimpuh
meminta rahmat dan kasih sayang-Nya
jangan sia-sia kan waktumu
hanya untuk lima menit di dunia
maka berbagilah denganku
berbagi cerita dan cinta
dalam tulisan sederhana
Yang mampu menggetarkan jiwa
mereka yang diam saja
hingga akhir masa
tak meninggalkan secuil puisi kehidupan
untuk kemudian hilang dalam perut Bumi
dan terlupakan

26 Oktober, 2015

Kisah Tentang Aku, Waktu dan Tulisan

Gagasan demi gagasan
ku satukan dalam lembar demi lembar
dari waktu ke waktu
terus ku tulis apapun yang melintas
Di fikiranku
pena yang tiada henti menari
dan tangan yang tak penat mengiringi
setiap hal yang terjadi di keseharianku
adalah momen yang mungkin tidak akan terjadi dua kali
Maka, harus ku ingat, ku catat, untuk suatu saat nanti dapat ku kenang
Menulis bukan hal yang sulit
menulislah walau hanya satu kata
karena menulis bukan pekerjaan sia-sia
kumpulkan tulisanmu
untuk pembaca yang kau cipta di kemudian hari
mereka, anak cucumu
meski bukan seluruh dunia mengetahui gagasanmu
setidaknya mereka tahu
untuk kemudian mengerti dan mulai menulis pula.
Ini kisah tentang aku, waktu dan tulisan
serta keabadian dan kedamaian
Dalam jiwaku

02 Oktober, 2015

Sanubari Pemimpi



Setiap kali membaca postingannya di Facebook hatiku tersentuh. Setiap kali ia bercerita tentang mimpi-mimpinya, aku ingin berjalan beriringan menggapai mimpi yang timbul tenggelam di masyarakat tetapi tetap memuncak dalam tekadnya. Ia bersama seseorang yang sangat menyayanginya-Abah. Di samping keluarga yang selalu mendukungnya. Dia dan seseorang yang dalam diam memikirkan masa depan bangsa. Diam mereka bukan tanpa karya. Hanya saja, tersembunyi oleh media. Dihalangi oleh penguasa. Di tekan dan di injak hingga “harus” merasa putus asa. Tetapi asa itu tak pernah ada. Hanya saja secuil kekecewaan singgah. Dan tak lama kalah oleh rasa cintanya pada Indonesia.  Kecewaan itu mereka rangkai kembali menjadi tantangan baru.

“Mimpi-mimpiku harus menjadi kenyataan!
Walau tidak semua terwujud selama Aku hidup, setidaknya aku meninggalkan potongan mimpiku pada mereka. Agar kelak, aku terus bermimpi meski sudah tidur dan tidak bangun lagi.”
(Sanubari Pemimpi)

Tidak banyak yang semangat mencari tahu kehidupannya. Hanya segelintir Pihak akademik Kampus dan mahasiswa yang rela memluangkan waktu untuk menimba ilmu ke tempat pertapaan sang pemimpi-Ciheras, Tasikmalaya. Sedang sebahagian besar yang lain, turut mengundang mimpi-mimpi itu datang menghinggapi mereka yang tak mampu jauh ke sana. Dengan rasa ingin tahu yang besar dan rasa kebersamaan ingin membangun negeri mereka mengundang sang pemimpi bertamu ke kampus-kampus di pelosok negeri. “Blusukan” ke kampus pun kini sudah menjadi salah satu rutinitas sang Teknokrat.

Benar pula adanya, negeri ini kurang menghargai karya besar yang “Wah” menurut negara lain. Ketika pemuda dan pemudinya cakap dalam bidang teknologi, negeri ini lebih memilih untuk tidak berhenti mengkonsumsi teknologi asing. Kesadaran untuk mandiri itu ada. Tetapi negeri ini tidak ingin sedikit Royal untuk investasi masa depan Indonesia. Dari pada Royal untuk negara, lebih baik Royal pada diri sendiri dan keluarga dengan uang negara. Pemikiran kolot tangan tangan kotor yang “khilaf” di perjalanan “mengabdikan diri” pada negeri. Itulah fakta yang ada di Indonesiaku.

Ketika Abah mendapat amanah menjadi Menteri, ia  sadar bersama “anaknya” ia mampu mengubah bangsa ini menjadi mandiri. Dengan menanamkan rasa cinta pada tanah air, Abah membawa pulang pemuda berdarah “rantau” kembali ke pangkuan ibu pertiwi. “Ricky Elson” yang telah cukup lama mengabdi pada negeri sakura tempat ia di tempa menjadi Teknokrat. Pulang ke Indonesia bersama sang Abah, Dahlan Iskan.