Setiap kali membaca
postingannya di Facebook hatiku
tersentuh. Setiap kali ia bercerita tentang mimpi-mimpinya, aku ingin berjalan
beriringan menggapai mimpi yang timbul tenggelam di masyarakat tetapi tetap
memuncak dalam tekadnya. Ia bersama seseorang yang sangat menyayanginya-Abah.
Di samping keluarga yang selalu mendukungnya. Dia dan seseorang yang dalam diam
memikirkan masa depan bangsa. Diam mereka bukan tanpa karya. Hanya saja,
tersembunyi oleh media. Dihalangi oleh penguasa. Di tekan dan di injak hingga
“harus” merasa putus asa. Tetapi asa itu tak pernah ada. Hanya saja secuil
kekecewaan singgah. Dan tak lama kalah oleh rasa cintanya pada Indonesia. Kecewaan itu mereka rangkai kembali menjadi
tantangan baru.
“Mimpi-mimpiku
harus menjadi kenyataan!
Walau
tidak semua terwujud selama Aku hidup, setidaknya aku meninggalkan potongan mimpiku
pada mereka. Agar kelak, aku terus bermimpi meski sudah tidur dan tidak bangun
lagi.”
(Sanubari
Pemimpi)
Tidak banyak yang semangat
mencari tahu kehidupannya. Hanya segelintir Pihak akademik Kampus dan mahasiswa yang rela memluangkan waktu untuk menimba ilmu ke tempat pertapaan sang pemimpi-Ciheras,
Tasikmalaya. Sedang sebahagian besar yang lain, turut mengundang
mimpi-mimpi itu datang menghinggapi mereka yang tak mampu jauh ke sana. Dengan rasa ingin tahu yang besar dan rasa kebersamaan ingin membangun negeri mereka mengundang sang pemimpi bertamu ke kampus-kampus di pelosok negeri. “Blusukan”
ke kampus pun kini sudah menjadi salah satu rutinitas sang Teknokrat.
Benar pula adanya, negeri
ini kurang menghargai karya besar yang “Wah” menurut negara lain. Ketika pemuda
dan pemudinya cakap dalam bidang teknologi, negeri ini lebih memilih untuk
tidak berhenti mengkonsumsi teknologi asing. Kesadaran untuk mandiri itu ada. Tetapi
negeri ini tidak ingin sedikit Royal untuk investasi masa depan Indonesia. Dari
pada Royal untuk negara, lebih baik Royal pada diri sendiri dan keluarga dengan
uang negara. Pemikiran kolot tangan tangan kotor yang “khilaf” di perjalanan
“mengabdikan diri” pada negeri. Itulah fakta yang ada di Indonesiaku.
Ketika Abah mendapat amanah
menjadi Menteri, ia sadar bersama
“anaknya” ia mampu mengubah bangsa ini menjadi mandiri. Dengan menanamkan rasa
cinta pada tanah air, Abah membawa pulang pemuda berdarah “rantau” kembali ke
pangkuan ibu pertiwi. “Ricky Elson” yang telah cukup lama mengabdi pada negeri
sakura tempat ia di tempa menjadi Teknokrat.
Pulang ke Indonesia bersama sang Abah, Dahlan Iskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar