02 Oktober, 2015

Sanubari Pemimpi



Setiap kali membaca postingannya di Facebook hatiku tersentuh. Setiap kali ia bercerita tentang mimpi-mimpinya, aku ingin berjalan beriringan menggapai mimpi yang timbul tenggelam di masyarakat tetapi tetap memuncak dalam tekadnya. Ia bersama seseorang yang sangat menyayanginya-Abah. Di samping keluarga yang selalu mendukungnya. Dia dan seseorang yang dalam diam memikirkan masa depan bangsa. Diam mereka bukan tanpa karya. Hanya saja, tersembunyi oleh media. Dihalangi oleh penguasa. Di tekan dan di injak hingga “harus” merasa putus asa. Tetapi asa itu tak pernah ada. Hanya saja secuil kekecewaan singgah. Dan tak lama kalah oleh rasa cintanya pada Indonesia.  Kecewaan itu mereka rangkai kembali menjadi tantangan baru.

“Mimpi-mimpiku harus menjadi kenyataan!
Walau tidak semua terwujud selama Aku hidup, setidaknya aku meninggalkan potongan mimpiku pada mereka. Agar kelak, aku terus bermimpi meski sudah tidur dan tidak bangun lagi.”
(Sanubari Pemimpi)

Tidak banyak yang semangat mencari tahu kehidupannya. Hanya segelintir Pihak akademik Kampus dan mahasiswa yang rela memluangkan waktu untuk menimba ilmu ke tempat pertapaan sang pemimpi-Ciheras, Tasikmalaya. Sedang sebahagian besar yang lain, turut mengundang mimpi-mimpi itu datang menghinggapi mereka yang tak mampu jauh ke sana. Dengan rasa ingin tahu yang besar dan rasa kebersamaan ingin membangun negeri mereka mengundang sang pemimpi bertamu ke kampus-kampus di pelosok negeri. “Blusukan” ke kampus pun kini sudah menjadi salah satu rutinitas sang Teknokrat.

Benar pula adanya, negeri ini kurang menghargai karya besar yang “Wah” menurut negara lain. Ketika pemuda dan pemudinya cakap dalam bidang teknologi, negeri ini lebih memilih untuk tidak berhenti mengkonsumsi teknologi asing. Kesadaran untuk mandiri itu ada. Tetapi negeri ini tidak ingin sedikit Royal untuk investasi masa depan Indonesia. Dari pada Royal untuk negara, lebih baik Royal pada diri sendiri dan keluarga dengan uang negara. Pemikiran kolot tangan tangan kotor yang “khilaf” di perjalanan “mengabdikan diri” pada negeri. Itulah fakta yang ada di Indonesiaku.

Ketika Abah mendapat amanah menjadi Menteri, ia  sadar bersama “anaknya” ia mampu mengubah bangsa ini menjadi mandiri. Dengan menanamkan rasa cinta pada tanah air, Abah membawa pulang pemuda berdarah “rantau” kembali ke pangkuan ibu pertiwi. “Ricky Elson” yang telah cukup lama mengabdi pada negeri sakura tempat ia di tempa menjadi Teknokrat. Pulang ke Indonesia bersama sang Abah, Dahlan Iskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar