Jika mata di balas mata. Maka haruslah hati dibalas
hati. Karena mata tak pernah bohong. Dan hati akan selalu menjiwai.
Menemukanmu
duduk santai menikmati alam di tepi danau ini adalah takdir yang selalu ingin
ku buat. Langkah kakiku selalu ringan menujumu. Memperhatikanmu dari jarak tiga
meter sudah menjadi kebiasaanku. Sejak ku tahu, kau pengunjung setia danau ini.
Kau
terlihat berbeda, kebanykan orang ke danau ini dengan pasangan mereka.
Bercerita, ber-selfie ria, dan saling
berkasih sayang. Sedang kau menyendiri. Membaca buku atau hanya sekedar
meluangkan waktu menyapa burung-burung yang asyik mandi di danau ini. Terkadang
aku melihat kau menulis atau melukis. Entahlah. Aku tidak tahu benar. Yang
jelas kau memegang buku dan pena. Menatap alam kemudian mengabadikannya dengan
penamu. Aku berfikir kau adalah sastrawati yang menarik, unik, dan cantik.
“Hai.” Sapa
seorang wanita sambil memegang pundakmu.
“Haiii”, kau
tersenyum pada seorang teman di belakangmu. Sangat manis. Aku jatuh cinta.
“Sudah lama ya?”
“Baru setengah
jam”
“Maaf ya, tadi
aku masuk, baru keluar. Dosennya kelewatan” sungut temanmu.
“Iya, gak
apa-apa Lies”
“Duduklah”
“Mana bukumu?”
“Ini...” sebelum
kau memberikan buku yang kau coret-coret tadi pada temanmu, kau menarik
lenganmu dan menagih buku miliknya.
“Ini. Jangan
tertawakan cerpenku!”
“Tidak
akan. Aku hanya akan memberimu saran Lies.”
Setelah
kalian saling bertukar buku. Hening. Kalian sibuk dengan buku di tangan
masing-masing.
***
“Bagus, seperti dua orang yang autis. Hahaha maaf aku mencurinya”.
“Rey!”
“Ya ma,”
“Cepat kesini. Makan
malam bersama”.
Sesampainya
di ruang makan, ku lihat seseorang yang tak asing bagiku.
“Papa!” sapaku agak ragu. Surprise. Senang.
“Hai Rey”
“Hai Pa, apa kabar?” sambil ku salami
seseorang yang telah lama ku rindukan.
“Papa sahat, seperti yang kamu lihat.
Kamu bagaimana Rey? Kuliahmu bagaimana?”
“Aku tidak sehat setelah papa tinggal.
Dua bulan aku kehilangan 10 kg berat badan. Aku demam setiap minggu. Mengigau
saat tidur, memanggil papa. Berharap papa pulang. Dua bulan pula, aku mengurung
diri. Tidak kuliah.”
“Maafkan papa. Maaf nak”.
Tiba-tiba papa memelukku. Hangat, sangat
tentram. Aku merindukan pelukan ini.
“Jangan pergi lagi pa!”
“Tidak akan pernah lagi Rey”.
“Tidak akan pernah?”
“Papa akan selalu bersama kamu”.
“Pa...” ku lepas pelukan itu, ku tatap
mata papa.
“Papa berhenti. Papa akan buka bisnis.
Papa akan menghabiskan waktu bersama kamu dan mama”.
“Terimakasih pa”. Aku kembali memeluknya
erat.
“Bagaimana Palestina pa?” tanya mamaku
di sela-sela makan malam.
“Sangat kacau ma, tetapi penuh keimanan
dan keberanian”.
“Banyak kejadian luar biasa?”
“Iya ma, banyak keajaiban”
“Seperti apa pa?” tanyaku penasraan.
“Seorang anak laki-laki berusia lima
tahun berdiri bersama kedua orang tuanya di perbatasan perang. Ia menggenggam
sebuah batu. Jalan dengan gagah beraani menuju tentara Israel. Setelah ia mersa
cukup dekat. Iaa melempar batu tersebut hingga mengenai mata salah satu tentara
Israel. Ajaib bukan?”
“Dengan gagah berani, ia berbalik dan
kembali ke barisannya. Namun... seseorang menembaknya. Tentara Israel yang di
lemparnya tadi. Membunuh anak itu. Orangtuanya menjerit histeris. Allahuakhbar!
Allahuakhbar! Allahuakhbar! Kemudian mereka tersenyum memangku puteranya yang
mati syahid. Mengecup kening anaknya. Lama sekali. Sampai ia ikhlas. Merelakan
anaknya pergi”.
“Saat itu papa teringat padamu. Papa
menangis mengingat dirimu yang papa tinggalkan. Sejak saat itu papa janji akan
di samping Rey hingga saat terakhir kita bersama”.
“Papa sayang Rey?”
“Sayang sekali, sangat sangat sayang.
Melebihi seragam tentara papa. Melebihi uang yang kita punya. Melebihi rumah
ini. Kamu harta papa dan mama. Kamu yang terindah Nak. Izinkan papa menjadi
papa terbaik selama kamu hidup”.
***
“Selamat pagi ma, pa”.
“Pagi Rey”.
“Pagi Rey, sarapan dulu”.
“Rey telat pa. Ntar Rey sarapan di
kampus”.
“Papa anter kamu ya”.
“Gak pa, papa makan aja. Rey bukan anak
TK lagi. Rey udah kuliah pa”.
“Papa mau...”
“Pa, jangan jadi menyebalkan please”.
“Pa, jangan terlalu protektif dengan Rey. Dia bisa jaga diri”. Ucap mamaku sambil
tersenyum membuat papa mengerti.
“Rey pergi ya pa, Assalamu’alaikum”.
“Ma, Rey pergi dulu ya”.
“Iya sayang. Semangat belajarnya”.
“Nanti Rey pulang sore ma”.
“Danau?”
“Yap. Hehehe”
“Danau Rey?”
“Iya pa. Papa tanya mama aja ya pa. Rey
telat nih”.
“Assalamu’alaikum”.
***
Sendiri. Menunggumu. Sudah pukul 16:45. Kau belum juga
datang. “Apa kau akan absen hari ini?”. Tidak lengkap rasanya melihat burung
menari tanpa kau bernyanyi. Melihat langit cerah tanpa kau disini. Melihat ai
bergerak tetapi aku hanya berdiam diri. Tidak menarik sama sekali.
“Mengapa kau belum
datang juga?” sudah pukul 17:30 tanda kehadiranmu belum ku lihat. “Lebih baik
pulang. Menghabiskan waktu bersama papa”. Cukup sudah untuk hari ini. Kau absen
tanpa memberi tahu ku. Kau membuatku hampir gila menunggu.
Aku beranjak menuju
motor. Ketika hendak menghidupkan mesinnya. Ku lihat kau berjalan ke arahku. Oh
bukan. Tentu saja ke tempat kau biasa duduk di tepi danau ini. Entah mengapa
aku sesenang ini. Aku senang kau datang. Meski aku akan pulang. Setidaknya aku
menunggu hal yang pasti. Kamu.
“Sudah sepi...”
“Iya, sepi sekali...” tiba-tiba kakiku
berat untuk pulang. Hatiku meminta untuk menemanimu. Logikaku hilang. Aku tak
tahu lagi apa itu malu. Yang ku ingin saat ini, menerima hal yang ku tunggu.
Kamu.
“Eh, kamu siapa?” tanyamu heran.
Tatapanmu takut. Seolah melihatku seperti orang jahat. Tapi, aku suka kau
seperti itu. Aku suka kau yang tak ramah pada orang yang baru kau kenal.
“Aku Rey. Namamu?” ucapku memperkenalkan
diri.
“.......”
“Kau takut padaku?”
“.......”
“Aku bukan orang jahat. Aku mahasiswa
disini juga. Semester 7”.
“Mahasiswa UIN? Semester 7? Apakah aku
bertanya tentang itu?”
“.......”
15
menit berlalu. Aku hanya diam. Tak beranjak. Menunggumu bicara. Aku takut salah
bicara lagi. Aku takut perkenalah ini meninggalkan kesan buruk bagimu. Sehingga
membuatmu tak suka padaku.
“Maaf bang, aku tak bermksud
menyinggung. Aku memperlkukan semua orang yang ku kenal seperti itu. Karena aku
ingin tahu sifat mereka. Dan abang tahu? Abang SKSD (sok kenal sok dekat).”.
“Kalau begitu jangan minta maaf. Kau
tidak salah apa-apa. Aku bukan SKSD. Aku memang mengenal siapa dirimu. Dan
sekarang kita memang dekat”. Ujarku membela diri.
“Memang kenal aku? Memangnya siapa aku?”
tanyamu dengan wajah sinis.
“Kau Sani. Mahasiswa Pend. Matematika
semester 5”.
“Bagaimana abang tahu? Detektifkah? Atau
abang ingin menculik seseorang?”.
“Iya. Aku ingin menculikmu. Membawamu
kerumahku”.
“.......”
“Mau ikut?”
“.......”
“Aku mau pulang. Kau mau ikut?”
“.......”
“Maaf, aku hanya bercanda. Aku tak akan
menculik siapapun. Kau fikir aku psikopat? Hahaha. Aku hanya akan mengantarmu
pulang”.
“.......”
“Maafkaan aku San”.
“.......”
“Maaf. Bicaralah. Sudah senja”.
“Aku bisa pulang sendiri”.
“Baiklah. Sebelum pulang bisakah kau
maafkan abang?”
“Iya”.
“Hanya itu?”
“Iya, aku maafkan”.
“Sampai bertemu besok San.
Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaaikumussalam”.
***
Sabtu, 28 Februari.
“Hai San”.
“Hai”.
“Sudah berapa lama?
“Baru saja bang”.
“Mau minum?”
“Terimakasih, letakkan saja”.
“Kau menulis apa?”
“Novel”.
“Kau hobby menulis?”
“Seperti yang abang lihat”.
“Tentang apa?”
“Cinta?”
“Kau percaya cinta?”
“Bagaimana tidak, aku terlahir karena
cinta”.
“Benar juga”.
“Abang percaya cinta?”
“Ya, aku sedang merasakannya”.
“Oh...”
“Hahaha, cuek sekali”.
“Ini sudah terlalu ramah pada orang yang
baaru ku kenal bang”.
“San, kita berkenalan 2 minggu ynag
lalu”.
“Ya, aku tahu”.
“Ada yang bisa ku bantu?”
“Mmm, menurut abang apa itu cinta?”
“Cinta adalaah anugerah. Melihat
seseorang yanag membuatmu berdebar. Melihat seseorng yang menarik seluruh
perhatianmu. Melihat seseorang yang memberimu alasan untuk terus tersenyum.
Merelakan masa depan yang tergenggam, terlepas bagitu saja. Cinta itu kau”.
“Oke, jangan berpuisi bang. Jangan
gombal juga. Hahaha terlalu membawa perasaan. Apa yang abang maksud dengan
melepas masa depan?”
“Hahaha, aku tidak terlalu membawa
perasaan San. Tapi kini. Aku memang jatuh cinta. Padamu. Hari ini aku
seharusnya mengikuti wawancara di sebuah perusahaan.”
“Mengapa tidak pergi?”
“Aku ingin bertemu denganmu. Sesederhana
itu San”.
“Bodoh. Haruskah aku merusak masa depan
seseorang?”
“Kau tidak merusak apapun. Ini
pilihanku”.
Biodata Penulis
Nama
Lengkap: Mesra Yolanda Absani
Nama
Pena: Myabsani
Umur:
19 th
Blog:
Coretan Myabsani
Email:
mesraabsani99@gmail.com
Mahasiswa
aktif Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Jurusan
Pend. Matematika. Semester 4
Cita-cita:
To Be A Writter like Darwis Tere Liye dan Ilana Tan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar