04 Mei, 2015

KAMU


Jika mata di balas mata. Maka haruslah hati dibalas hati. Karena mata tak pernah bohong. Dan hati akan selalu menjiwai.
Menemukanmu duduk santai menikmati alam di tepi danau ini adalah takdir yang selalu ingin ku buat. Langkah kakiku selalu ringan menujumu. Memperhatikanmu dari jarak tiga meter sudah menjadi kebiasaanku. Sejak ku tahu, kau pengunjung setia danau ini.
Kau terlihat berbeda, kebanykan orang ke danau ini dengan pasangan mereka. Bercerita, ber-selfie ria, dan saling berkasih sayang. Sedang kau menyendiri. Membaca buku atau hanya sekedar meluangkan waktu menyapa burung-burung yang asyik mandi di danau ini. Terkadang aku melihat kau menulis atau melukis. Entahlah. Aku tidak tahu benar. Yang jelas kau memegang buku dan pena. Menatap alam kemudian mengabadikannya dengan penamu. Aku berfikir kau adalah sastrawati yang menarik, unik, dan cantik.
“Hai.” Sapa seorang wanita sambil memegang pundakmu.
“Haiii”, kau tersenyum pada seorang teman di belakangmu. Sangat manis. Aku jatuh cinta.
“Sudah lama ya?”
“Baru setengah jam”
“Maaf ya, tadi aku masuk, baru keluar. Dosennya kelewatan” sungut temanmu.
“Iya, gak apa-apa Lies”
“Duduklah”
“Mana bukumu?”
“Ini...” sebelum kau memberikan buku yang kau coret-coret tadi pada temanmu, kau menarik lenganmu dan menagih buku miliknya.
“Ini. Jangan tertawakan cerpenku!”
“Tidak akan. Aku hanya akan memberimu saran Lies.”
Setelah kalian saling bertukar buku. Hening. Kalian sibuk dengan buku di tangan masing-masing.
***
“Bagus, seperti dua orang yang autis. Hahaha maaf aku mencurinya”.
“Rey!”
“Ya ma,”
“Cepat kesini. Makan malam bersama”.
Sesampainya di ruang makan, ku lihat seseorang yang tak asing bagiku.
“Papa!” sapaku agak ragu. Surprise. Senang.
“Hai Rey”
“Hai Pa, apa kabar?” sambil ku salami seseorang yang telah lama ku rindukan.
“Papa sahat, seperti yang kamu lihat. Kamu bagaimana Rey? Kuliahmu bagaimana?”
“Aku tidak sehat setelah papa tinggal. Dua bulan aku kehilangan 10 kg berat badan. Aku demam setiap minggu. Mengigau saat tidur, memanggil papa. Berharap papa pulang. Dua bulan pula, aku mengurung diri. Tidak kuliah.”
“Maafkan papa. Maaf nak”.
Tiba-tiba papa memelukku. Hangat, sangat tentram. Aku merindukan pelukan ini.
“Jangan pergi lagi pa!”
“Tidak akan pernah lagi Rey”.
“Tidak akan pernah?”
“Papa akan selalu bersama kamu”.
“Pa...” ku lepas pelukan itu, ku tatap mata papa.
“Papa berhenti. Papa akan buka bisnis. Papa akan menghabiskan waktu bersama kamu dan mama”.
“Terimakasih pa”. Aku kembali memeluknya erat.
“Bagaimana Palestina pa?” tanya mamaku di sela-sela makan malam.
“Sangat kacau ma, tetapi penuh keimanan dan keberanian”.
“Banyak kejadian luar biasa?”
“Iya ma, banyak keajaiban”
“Seperti apa pa?” tanyaku penasraan.
“Seorang anak laki-laki berusia lima tahun berdiri bersama kedua orang tuanya di perbatasan perang. Ia menggenggam sebuah batu. Jalan dengan gagah beraani menuju tentara Israel. Setelah ia mersa cukup dekat. Iaa melempar batu tersebut hingga mengenai mata salah satu tentara Israel. Ajaib bukan?”
“Dengan gagah berani, ia berbalik dan kembali ke barisannya. Namun... seseorang menembaknya. Tentara Israel yang di lemparnya tadi. Membunuh anak itu. Orangtuanya menjerit histeris. Allahuakhbar! Allahuakhbar! Allahuakhbar! Kemudian mereka tersenyum memangku puteranya yang mati syahid. Mengecup kening anaknya. Lama sekali. Sampai ia ikhlas. Merelakan anaknya pergi”.
“Saat itu papa teringat padamu. Papa menangis mengingat dirimu yang papa tinggalkan. Sejak saat itu papa janji akan di samping Rey hingga saat terakhir kita bersama”.
“Papa sayang Rey?”
“Sayang sekali, sangat sangat sayang. Melebihi seragam tentara papa. Melebihi uang yang kita punya. Melebihi rumah ini. Kamu harta papa dan mama. Kamu yang terindah Nak. Izinkan papa menjadi papa terbaik selama kamu hidup”.
***
“Selamat pagi ma, pa”.
“Pagi Rey”.
“Pagi Rey, sarapan dulu”.
“Rey telat pa. Ntar Rey sarapan di kampus”.
“Papa anter kamu ya”.
“Gak pa, papa makan aja. Rey bukan anak TK lagi. Rey udah kuliah pa”.
“Papa mau...”
“Pa, jangan jadi menyebalkan please”.
“Pa, jangan terlalu protektif dengan Rey. Dia bisa jaga diri”. Ucap mamaku sambil tersenyum membuat papa mengerti.
“Rey pergi ya pa, Assalamu’alaikum”.
“Ma, Rey pergi dulu ya”.
“Iya sayang. Semangat belajarnya”.
“Nanti Rey pulang sore ma”.
“Danau?”
“Yap. Hehehe”
“Danau Rey?”
“Iya pa. Papa tanya mama aja ya pa. Rey telat nih”.
“Assalamu’alaikum”.
***
            Sendiri. Menunggumu. Sudah pukul 16:45. Kau belum juga datang. “Apa kau akan absen hari ini?”. Tidak lengkap rasanya melihat burung menari tanpa kau bernyanyi. Melihat langit cerah tanpa kau disini. Melihat ai bergerak tetapi aku hanya berdiam diri. Tidak menarik sama sekali.
“Mengapa kau belum datang juga?” sudah pukul 17:30 tanda kehadiranmu belum ku lihat. “Lebih baik pulang. Menghabiskan waktu bersama papa”. Cukup sudah untuk hari ini. Kau absen tanpa memberi tahu ku. Kau membuatku hampir gila menunggu.
Aku beranjak menuju motor. Ketika hendak menghidupkan mesinnya. Ku lihat kau berjalan ke arahku. Oh bukan. Tentu saja ke tempat kau biasa duduk di tepi danau ini. Entah mengapa aku sesenang ini. Aku senang kau datang. Meski aku akan pulang. Setidaknya aku menunggu hal yang pasti. Kamu.
“Sudah sepi...”
“Iya, sepi sekali...” tiba-tiba kakiku berat untuk pulang. Hatiku meminta untuk menemanimu. Logikaku hilang. Aku tak tahu lagi apa itu malu. Yang ku ingin saat ini, menerima hal yang ku tunggu. Kamu.
“Eh, kamu siapa?” tanyamu heran. Tatapanmu takut. Seolah melihatku seperti orang jahat. Tapi, aku suka kau seperti itu. Aku suka kau yang tak ramah pada orang yang baru kau kenal.
“Aku Rey. Namamu?” ucapku memperkenalkan diri.
“.......”
“Kau takut padaku?”
“.......”
“Aku bukan orang jahat. Aku mahasiswa disini juga. Semester 7”.
“Mahasiswa UIN? Semester 7? Apakah aku bertanya tentang itu?”
“.......”
            15 menit berlalu. Aku hanya diam. Tak beranjak. Menunggumu bicara. Aku takut salah bicara lagi. Aku takut perkenalah ini meninggalkan kesan buruk bagimu. Sehingga membuatmu tak suka padaku.
“Maaf bang, aku tak bermksud menyinggung. Aku memperlkukan semua orang yang ku kenal seperti itu. Karena aku ingin tahu sifat mereka. Dan abang tahu? Abang SKSD (sok kenal sok dekat).”.
“Kalau begitu jangan minta maaf. Kau tidak salah apa-apa. Aku bukan SKSD. Aku memang mengenal siapa dirimu. Dan sekarang kita memang dekat”. Ujarku membela diri.
“Memang kenal aku? Memangnya siapa aku?” tanyamu dengan wajah sinis.
“Kau Sani. Mahasiswa Pend. Matematika semester 5”.
“Bagaimana abang tahu? Detektifkah? Atau abang ingin menculik seseorang?”.
“Iya. Aku ingin menculikmu. Membawamu kerumahku”.
“.......”
“Mau ikut?”
“.......”
“Aku mau pulang. Kau mau ikut?”
“.......”
“Maaf, aku hanya bercanda. Aku tak akan menculik siapapun. Kau fikir aku psikopat? Hahaha. Aku hanya akan mengantarmu pulang”.
“.......”
“Maafkaan aku San”.
“.......”
“Maaf. Bicaralah. Sudah senja”.
“Aku bisa pulang sendiri”.
“Baiklah. Sebelum pulang bisakah kau maafkan abang?”
“Iya”.
“Hanya itu?”
“Iya, aku maafkan”.
“Sampai bertemu besok San. Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaaikumussalam”.
***
Sabtu, 28 Februari.
“Hai San”.
“Hai”.
“Sudah berapa lama?
“Baru saja bang”.
“Mau minum?”
“Terimakasih, letakkan saja”.
“Kau menulis apa?”
“Novel”.
“Kau hobby menulis?”
“Seperti yang abang lihat”.
“Tentang apa?”
“Cinta?”
“Kau percaya cinta?”
“Bagaimana tidak, aku terlahir karena cinta”.
“Benar juga”.
“Abang percaya cinta?”
“Ya, aku sedang merasakannya”.
“Oh...”
“Hahaha, cuek sekali”.
“Ini sudah terlalu ramah pada orang yang baaru ku kenal bang”.
“San, kita berkenalan 2 minggu ynag lalu”.
“Ya, aku tahu”.
“Ada yang bisa ku bantu?”
“Mmm, menurut abang apa itu cinta?”
“Cinta adalaah anugerah. Melihat seseorang yanag membuatmu berdebar. Melihat seseorng yang menarik seluruh perhatianmu. Melihat seseorang yang memberimu alasan untuk terus tersenyum. Merelakan masa depan yang tergenggam, terlepas bagitu saja. Cinta itu kau”.
“Oke, jangan berpuisi bang. Jangan gombal juga. Hahaha terlalu membawa perasaan. Apa yang abang maksud dengan melepas masa depan?”
“Hahaha, aku tidak terlalu membawa perasaan San. Tapi kini. Aku memang jatuh cinta. Padamu. Hari ini aku seharusnya mengikuti wawancara di sebuah perusahaan.”
“Mengapa tidak pergi?”
“Aku ingin bertemu denganmu. Sesederhana itu San”.
“Bodoh. Haruskah aku merusak masa depan seseorang?”
“Kau tidak merusak apapun. Ini pilihanku”.




Biodata Penulis
Nama Lengkap: Mesra Yolanda Absani
Nama Pena: Myabsani
Umur: 19 th
Blog: Coretan Myabsani
Email: mesraabsani99@gmail.com
Mahasiswa aktif Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Jurusan Pend. Matematika. Semester 4
Cita-cita: To Be A Writter like Darwis Tere Liye dan Ilana Tan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar