04 Mei, 2015

Ketika Tiba-tiba Dadamu Terasa Hangat


            Ketika tiba-tiba dadamu terasa hangat, itu karena do’aku untukmu. Menyebut namamu dalam do’a adalah cara mencintaimu paling rahasia yang pernah ku lakukan. Aku, hanya ingin mencintaimu dengan cara sederhana, sewajarnya, tanpa publikasi. Hanya bila kita menikah nanti.
            Kini, aku tidak memintamu segera menjadi milikku. Namun, aku meminta pada Tuhan untuk menjaga hatimu, pandanganmu, hidupmu, agar seutuhnya hanya untukku. Kelak. Yang mencintaimu. Tetapi hanya berani mengatakannya pada Tuhan di setiap sujudku.
            Mencintaimu dalam diam, bukan berarti aku tidak bertindak apapun saat tahu kau kesulitan dan tak bahagia. Saat ku tahu, aku segera meminta pada Tuhan agar kau diberi kemudahan dan di dekatkan pada orang-orang baik yang mampu memberimu canda tawa.
            Pada akhirnya, jatuh cinta diam-diam membuatku kadang terluka. Dan ku bersujud meminta pada Tuhan untuk diberikan hati yang kuat. Lalu, meminta Tuhan menyembuhkan luka ku dengan memberikan ku penawarnya. Kamu. Seseorang yang membuatku terluka.
            Selang waktu berlalu, ketika aku menulis ini, aku merasa dadaku hangat.
Aku baru menyadari. Ada yang mencintaiku dalam diam, tulus, dan juga memintaku pada Tuhan di setiap sujudnya. Dia. Seseorang yang masih dirahasiakan. Ku harap engkaulah yang sedang mendo’akan ku.
***
Kemarin, ku dengar dari Ayah dan Ibu. Ada yang kerumahku, dengan keluarga besarnya. Dengan berani, memintaku pada Ayah. Agar aku menjadi ibu dari anak-anaknya. Tentu saja aku terkejut bak di sambar petir di siang bolong.
“Ayah setuju? Ibu bgaimana?”.
Ayahku hanya diam di ujung telpon. Sepertinya ia sedang merangkai kata.
“Kau putri Ayah, Ayah tidak akan menyerahkanmu pada sembarang orang”.
Aku diam, meresapi kata-kata Ayah. Lama sekali, hingga 15 menit berlalu. Aku hanya diam.
“Nak...”
Ku hela nafas panjang, “huuufh”.
“Aku akan menuruti apapun kehendak Ayah. Karena aku anak perempuan Ayah, yang Ayah jaga dengan sungguh sejak kecil. Aku menurutinya, apapun itu”.
“Ayah setuju kau dengannya nak.”
“Ibuku bagaimana Yah?.”
“Ibumu sedang tersenyum.”
“baiklah Yah, segerakan saja.”
***
            Sejak saat itu ku buang namamu. Ku usir dari hatiku. Ku undang nama baru. Nama yang di setujui Ayah dan Ibu.
            Ku minta pada Tuhan agar hatiku mampu mencintai nama baru itu. Dalam diam pula. Setidaknya hingga tanggal pernikahan di sepakati Ayah. Nama baru itu kini ku sebut dlam do’a. Ku abadikan dalam jiwa. Seperti Edelweis di puncak gunung tertinggi dunia.
            Kini, saat dadaku terasa hangat, baru ku tahu dia sedang mendo’akan ku.
            Mencintainya dalam diam, seseorang yang sebentar lagi namanya tertulis di kartu keluargaku. Mencintainya, ternyata lebih indah. Jauh lebih indah dari pada mencintaimu dalam diam, tetapi tidak pernah sadar.
***
            Saat kau tahu dari angin bahwa aku pernah mencintaimu dalam diam. Dalam detik waktu yang terus berputar ke kanan. Hingga akhirnya waktu memintaku behenti mencintamu. Waktu mengharapkan melangkah bersama yang lain. Bersama jodoh yang di tetapkan Tuhan ke pelaminan.
“Mengapa kau menikah dengan dia?, padahal aku yang kau cinta. Mengapa kau memilih hidup dengan dia, sementara aku kini kau siksa dengan cinta yang mulai tumbuh padamu. Mengapa harus dia?, kembalilah mencintaiku!.”

 “Maaf, di sampingku kini ada yang lebih membutuhkanku. Maaf, di sampingku kini ada yang siap membahagiakanku. Maaf, kau terlambat menyadari rasaku yang telah lama bertahan hingga tak mampu ku pertahankan lebih lama.”

“Memang aku terlambat menyadarinya. Tapi, kini aku ingin memulainya. Mulai tuk membahagiakanmu, karena kini rasamu terbalaskan oleh rasaku. Buku ini, buku yang menyimpan sejuta cerita tentangku. Diary mu, yang kau tulis dengan harapan.”

“Bagaimana kau menemukannya?.”

“Angin yang membawanya, tangan Tuhan yang menitipkannya pada seseorang. Hingga buku ini sampai di rumahku. Buku yang penuh dengan tetes air matamu. Kini, aku datang tuk menghapus setiap air matamu itu. Maaf, aku baru menyadarinya.

“Sejak ia memintaku pada Ayah. Waktu tak mengizinkanku menunggumu yang dulu ku sebut dalam do’a. Barang sekali mengenngmu. Menyebut namamu tak mampu lagi ku lakukan.
Terimakasih telah menghadiri pernikahanku.”


Untuk kau,
Meski kini aku telah bersama tulang punggungku. Aku tidak pernah lupa, pernah mencintaimu dalam diam. Kau, masa lalu yang indah. Kini masa depanku penuh anugerah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar