Ketika tiba-tiba dadamu terasa
hangat, itu karena do’aku untukmu. Menyebut namamu dalam do’a adalah cara
mencintaimu paling rahasia yang pernah ku lakukan. Aku, hanya ingin mencintaimu
dengan cara sederhana, sewajarnya, tanpa publikasi. Hanya bila kita menikah
nanti.
Kini, aku tidak memintamu segera
menjadi milikku. Namun, aku meminta pada Tuhan untuk menjaga hatimu,
pandanganmu, hidupmu, agar seutuhnya hanya untukku. Kelak. Yang mencintaimu.
Tetapi hanya berani mengatakannya pada Tuhan di setiap sujudku.
Mencintaimu dalam diam, bukan
berarti aku tidak bertindak apapun saat tahu kau kesulitan dan tak bahagia.
Saat ku tahu, aku segera meminta pada Tuhan agar kau diberi kemudahan dan di
dekatkan pada orang-orang baik yang mampu memberimu canda tawa.
Pada akhirnya, jatuh cinta diam-diam
membuatku kadang terluka. Dan ku bersujud meminta pada Tuhan untuk diberikan
hati yang kuat. Lalu, meminta Tuhan menyembuhkan luka ku dengan memberikan ku
penawarnya. Kamu. Seseorang yang membuatku terluka.
Selang waktu berlalu, ketika aku
menulis ini, aku merasa dadaku hangat.
Aku
baru menyadari. Ada yang mencintaiku dalam diam, tulus, dan juga memintaku pada
Tuhan di setiap sujudnya. Dia. Seseorang yang masih dirahasiakan. Ku harap
engkaulah yang sedang mendo’akan ku.
***
Kemarin,
ku dengar dari Ayah dan Ibu. Ada yang kerumahku, dengan keluarga besarnya.
Dengan berani, memintaku pada Ayah. Agar aku menjadi ibu dari anak-anaknya.
Tentu saja aku terkejut bak di sambar petir di siang bolong.
“Ayah
setuju? Ibu bgaimana?”.
Ayahku
hanya diam di ujung telpon. Sepertinya ia sedang merangkai kata.
“Kau
putri Ayah, Ayah tidak akan menyerahkanmu pada sembarang orang”.
Aku
diam, meresapi kata-kata Ayah. Lama sekali, hingga 15 menit berlalu. Aku hanya
diam.
“Nak...”
Ku
hela nafas panjang, “huuufh”.
“Aku
akan menuruti apapun kehendak Ayah. Karena aku anak perempuan Ayah, yang Ayah
jaga dengan sungguh sejak kecil. Aku menurutinya, apapun itu”.
“Ayah
setuju kau dengannya nak.”
“Ibuku
bagaimana Yah?.”
“Ibumu
sedang tersenyum.”
“baiklah
Yah, segerakan saja.”
***
Sejak saat itu ku buang namamu. Ku
usir dari hatiku. Ku undang nama baru. Nama yang di setujui Ayah dan Ibu.
Ku minta pada Tuhan agar hatiku
mampu mencintai nama baru itu. Dalam diam pula. Setidaknya hingga tanggal
pernikahan di sepakati Ayah. Nama baru itu kini ku sebut dlam do’a. Ku abadikan
dalam jiwa. Seperti Edelweis di
puncak gunung tertinggi dunia.
Kini,
saat dadaku terasa hangat, baru ku tahu dia sedang mendo’akan ku.
Mencintainya
dalam diam, seseorang yang sebentar lagi namanya tertulis di kartu keluargaku.
Mencintainya, ternyata lebih indah. Jauh lebih indah dari pada mencintaimu
dalam diam, tetapi tidak pernah sadar.
***
Saat kau tahu dari angin bahwa aku
pernah mencintaimu dalam diam. Dalam detik waktu yang terus berputar ke kanan.
Hingga akhirnya waktu memintaku behenti mencintamu. Waktu mengharapkan
melangkah bersama yang lain. Bersama jodoh yang di tetapkan Tuhan ke pelaminan.
“Mengapa
kau menikah dengan dia?, padahal aku yang kau cinta. Mengapa kau memilih hidup
dengan dia, sementara aku kini kau siksa dengan cinta yang mulai tumbuh padamu.
Mengapa harus dia?, kembalilah mencintaiku!.”
“Maaf, di sampingku kini ada yang lebih membutuhkanku. Maaf, di sampingku kini ada yang siap membahagiakanku. Maaf, kau terlambat menyadari rasaku yang telah lama bertahan hingga tak mampu ku pertahankan lebih lama.”
“Memang aku terlambat menyadarinya. Tapi, kini aku ingin memulainya. Mulai tuk membahagiakanmu, karena kini rasamu terbalaskan oleh rasaku. Buku ini, buku yang menyimpan sejuta cerita tentangku. Diary mu, yang kau tulis dengan harapan.”
“Bagaimana kau menemukannya?.”
“Angin yang membawanya, tangan Tuhan yang menitipkannya pada seseorang. Hingga buku ini sampai di rumahku. Buku yang penuh dengan tetes air matamu. Kini, aku datang tuk menghapus setiap air matamu itu. Maaf, aku baru menyadarinya.”
“Sejak ia memintaku pada Ayah. Waktu tak mengizinkanku menunggumu yang dulu ku sebut dalam do’a. Barang sekali mengenngmu. Menyebut namamu tak mampu lagi ku lakukan.
Terimakasih
telah menghadiri pernikahanku.”
Untuk kau,
Meski kini aku
telah bersama tulang punggungku. Aku tidak pernah lupa, pernah mencintaimu dalam
diam. Kau, masa lalu yang indah. Kini masa depanku penuh anugerah.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar