Bau tubuhmu bau tanah basah, sebentar lagi kau akan
menutup usia. Kau berjalan dari bilik kamar mandi menuju bilik kamar. Hanya
dengan handuk yang tutupi keriput kulit. Kau bersenandung kecil bagai bocah
bernyanyi sesuka hati.Lupa lirik. Bukan karena otak mu yang tak bekerja, tapi
pikun telah menyergap memori.
Mak Dijah, kau bagai gadis baru puber. Setelah mengusap
seluruh badan dengan handuk, kau bungkus tubuh dengan kain baru. Merah menyala bajumu,
kuning taik warna rokmu. Belum lagi jilbab hijau daun yang kemarin sore kau beli
di pasar, menutupi kepala yang beruban. Mak Dijah, kata anak zaman sekarang kau
tabrak warna.
Kau bercermin. Lama… menatap rupamu sendiri.
Pantulan cermin hanya tampakkan bagian bahu hingga kepalamu saja. “cantik,”
pujimu pada diri sendiri. Kau buka pintu almari sebelah kiri. Mengambil bedak
tabur, untuk mengubah warna wajahmu. Mengambil pensil alis, mulai melukis dua
lengkungan. Hitam legam tepat diatas matamu. Lipstik merah terang kini ditanganmu, kau monyongkan bibir. Oleskan
pelan, hingga bibir coklatmu berganti warna. “nge-jreng” kata anak muda kini.
Mak, kau seperti artis nak naik ke atas panggung.
Enatahlah apa yang kan terjadi jika kau memang benar naik ke panggung nanti.
Mak dijah, kau akan menjadi pusat perhatian mata duniamu.
Bau tubuhmu kini, bau tanah kering Mak. Setelah lama
memoles wajah keriput itu, kau ambil botol kaca kecil di dalam lemari. Warna
air itu kekuning-kuningan. Kau kocok sebentar, lalu memutar tutupnya. Kau
oleskan ke telapak tangan kanan. Kau pertemukan dengan telapak tangan kiri. Kau
gosok pelan. Lalu Mak usap telapak tangan itu ke ketiak kanan dan kiri.
Merasa dirasa wangimu kurang, Mak ambil lagi botol
kecil yang tadi terletak di atas lemari. Kau oleskan lagi ke telapak tangan,
kau gosok pelan telapak tanganmu yang bertemu. Lalu kau usapkan telapak tangan
itu ke bahu kanan dan kiri.
Mak Dijah, kau kini seharum malaikat subuh.
“Mak Dijah, harum itu tak menutup indera penciuman mereka.
kau tetap bau tanah. Sadarlah mak, parfume yang kau andalkan itu, hanya
sebentar membuat bau tanahmu hilang. Kau tetap bau tanah,” kata pantulan dirimu
di dalam cermin.
Kau berlari ke kamar mandi, membasuh mukamu. Sekuat
tenaga kau gosok kasar muka keriputmu. Air itu melunturkan bedak, pensil alis,
dan lipstik yang tadi mengubahmu bak gadis remaja. Wajahmu kembali seperti apa
adanya. Keriput dann coklat tanah. Kau kembali bercermin,
“Mak, kau tetap tak seharum malaikat subuh, kau bau
tanah. aku tak peduli wajahmu yang telah bebas dari rekayasa. Tapi yang ku
permasalahkan, bau tubuhmu mak. Bau tanah!,” ujar orang di cermin itu, lagi.
Sontak tersadar, kau tanggalkan hijau, merah, kuning
itu. Kau buka lemari sebelah kanan, kau ambil baju kurung warna coklat muda.
Baju kurung itu sempurna membalut kulitmu yang kering, keriput, lisut. Hijau,
merah, kuning berparfume itu kau lempar ke sudut kamar di balik pintu.
“kau cantik dik, kau tanpa rekayasa wajahmu, kau
tanpa bau yang palsu,” kata seorang pria di depan pintu kamarmu.
“eh, abang sudah pulang ya. Terimakasih atas
pujianmu,” ujar mak Dijah tersipu malu menatap sang suami.
“sejujurnya aku lebih suka kau yang sederhana Jah,
hidungku sesak ketika kau pakai parfume itu,” jujur suami Mak Dijah.
“abang, aku ingin tetap cantik di matamu, maka dari
itu ku coba berbagai hal yang di pakai anak muda kini, dan seseorang berkata
padaku kalau aku bau tanah, aku tak ingin kau beralih pandang pada yang lain,”
balas Mak Dijah.
“ingatlah dulu, saat aku memintamu menjadi pendamping
hidupku. Tak ku hiraukan puluhan wanita ber-make-up
mengungkapkan cinta padaku, yang ku inginkan hanya kau Dijah. Cantik apa adanya
tanpa make-up dan parfume antah
berantah,” jelas sang suami menerawang masa di kala ia melamar Mak Dijah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar