10 November, 2016

Membeli Senyuman



 
Ketika melihat seorang nenek mendorong gerobak sampah dengan seorang cucu perempuan di dalam gerobak tersebut. Seseorang berkata “Kasihan ya nenek itu, sudah tua masih dorong gerobak” tanpa bertindak. Sedang yang lainnya tanpa berkata apapun, segera menghampiri nenek tersebut dan memberi sejumlah uang. Ia berlalu. Nenek itu pun melanjutkan perjalanannya dibawah terik mentari. Selang beberapa menit yang lainnya juga datang menghampiri nenek tersebut memberi sejumlah kue. “Alhamdulillah. Terimakasih nak” ucapnya dengan senyum bahagia. Berlalu.
Kini waktu bertanya kepadamu. “Kau ingin menjadi seseorang yang mana?”. Waktu mendesakmu. “Kapan kau akan melakukan hal yang sama?”. Waktu pun mulai menyalahkanmu. “Kenapa kau hanya diam saja ketika melihat mereka yang kekurangan di jalanan?”. Lalu kau mulai bertanya pada dirimu. “Kapan aku akan mulai memberi?”
Tidak perlu orang sejagat tahu kau orang pintar. Kau orang berpendidikan. Kau orang yang baik. Jikalau aplikasi pendidikanmu nol besar. Yang tanganmu tahu justru membuang sampah sembaranagan. Membuat masalah mengotorkan bumi. Dan hatimu santai-santai saja melakukan hal itu bertahun-tahun. Mulai sekarang, ajaklah tanganmu melakukan hal yang lebih bermanfaat. Memberi. Tidak peduli nilainya. Seribu bahkan sejuta. Cukup lakukan hal baik itu diam-diam. Cukup kau yang tahu senyuman mereka yang kau bantu membuatmu lebih hidup. Hingga kau akan candu memberi. Dan terus memberi karena senyum mereka kau pun jadi tersenyum. Hatimu lega ketika memberi. Kekosonganmu di isi oleh orang-orang pinggiran. Kau harus tahu, dengan aksi kecilmu ini. Kau telah mengubah dunia mereka.
Candumu kini meresahkan. Ketika kau melihat seseorang yang tidak bertindak saat melihat seorang kakek bersemangat menjual kacang. Dia mengangkat tangannya menolak kemudian berkata “Maaf kek, lain kali saya beli”. Kau gelisah. Kau hampiri dia, kau bisikkan padanya. “Kenapa tidak kau beli?” “Kenapa kau menolaknya ketika kau punya uang segepok?” “Karena kau tidak membutuhkannya?”.
Dia mengangguk atas pertanyaan yang menghujaninya. Candumu bergejolak. Kau panggil kakek itu. Kau beli kacangnya. Kau dapatkan senyumannya. Kau pun tersenyum. Kakek tersebut berlalu. Hatimu lega. Kau lakukan satu hal di depan dia yang menolak kakek tadi. Kau buka bungkus kacang itu. Kau barikan padanya kepada siapa saja yang kau temui.
“Meski kau tidak membutuhkannya. Belilah. Dan berikan kepada mereka yang menginginkannya. Terbayangkah olehmu, seandainya kakek itu adalah orang tuamu? Terbayangkah olehmu, seandainya ayahmu yang menjajakan kacang itu?”.
Karena penolakan itu, kemudian kau merasa bersalah. Kau pun mencari kakek itu untuk membeli kacangnya. Kau cari ia, karena belum lama pergi dari hadapanmu. Ia tidak kau temukan.
Nak, kegigihan seperti apa lagi yang bisa menjamah hatimu yang tak ingin memberi itu? Nenek itu kau abaikan. Kau hanya prihatin akan keadaannya tanpa berbuat. Kakek itu kau tolak dagangannya. Kau bilang lain kali saja. Lalu, bagaimana lagi cara aku mengajakmu untuk memberi? Aku kehabisan akal. Meski canduku terus memaksaku untuk tak tinggal diam. Mengajakmu memberi.
Pada kenyataannya hatimu masih angkuh. Kau merasa mampu berjalan diatas dunia. Melakukan semua hal dengan hartamu. Tapi untuk memberi sedikit saja ternyata kau tidak mampu. Ingin rasanya aku menyelamatkan hatimu. Menemukan celah kecil. Menyentuhnya. Mengajak hati itu memanfaatkan kemewahan untuk mencari kesengsaraan di tepian ibu kota. Kemudian sama-sama memberi untuk membeli senyuman mereka.
Karena aku dan kau pada akhirnya sama-sama haus akan kebahagiaan sederhana. Senyum di wajah sendu yang merekah tersebab kita yang memberi. Tersebab kita mengistimewakan mereka yang dipandang sebelah mata. Tersebab kita berbeda dan ingin menjadi warna di hidup mereka.
---MYAbsani---

3 komentar: