Ketika melihat seorang nenek mendorong
gerobak sampah dengan seorang cucu perempuan di dalam gerobak tersebut.
Seseorang berkata “Kasihan ya nenek itu, sudah tua masih dorong gerobak” tanpa
bertindak. Sedang yang lainnya tanpa berkata apapun, segera menghampiri nenek
tersebut dan memberi sejumlah uang. Ia berlalu. Nenek itu pun melanjutkan
perjalanannya dibawah terik mentari. Selang beberapa menit yang lainnya juga
datang menghampiri nenek tersebut memberi sejumlah kue. “Alhamdulillah. Terimakasih
nak” ucapnya dengan senyum bahagia. Berlalu.
Kini waktu bertanya kepadamu. “Kau ingin
menjadi seseorang yang mana?”. Waktu mendesakmu. “Kapan kau akan melakukan hal
yang sama?”. Waktu pun mulai menyalahkanmu. “Kenapa kau hanya diam saja ketika melihat
mereka yang kekurangan di jalanan?”. Lalu kau mulai bertanya pada dirimu. “Kapan
aku akan mulai memberi?”
Tidak perlu orang sejagat tahu kau orang
pintar. Kau orang berpendidikan. Kau orang yang baik. Jikalau aplikasi
pendidikanmu nol besar. Yang tanganmu tahu justru membuang sampah sembaranagan.
Membuat masalah mengotorkan bumi. Dan hatimu santai-santai saja melakukan hal
itu bertahun-tahun. Mulai sekarang, ajaklah tanganmu melakukan hal yang lebih
bermanfaat. Memberi. Tidak peduli nilainya. Seribu bahkan sejuta. Cukup lakukan
hal baik itu diam-diam. Cukup kau yang tahu senyuman mereka yang kau bantu
membuatmu lebih hidup. Hingga kau akan candu memberi. Dan terus memberi karena
senyum mereka kau pun jadi tersenyum. Hatimu lega ketika memberi. Kekosonganmu
di isi oleh orang-orang pinggiran. Kau harus tahu, dengan aksi kecilmu ini. Kau
telah mengubah dunia mereka.
Candumu kini meresahkan. Ketika kau
melihat seseorang yang tidak bertindak saat melihat seorang kakek bersemangat
menjual kacang. Dia mengangkat tangannya menolak kemudian berkata “Maaf kek,
lain kali saya beli”. Kau gelisah. Kau hampiri dia, kau bisikkan padanya. “Kenapa
tidak kau beli?” “Kenapa kau menolaknya ketika kau punya uang segepok?” “Karena
kau tidak membutuhkannya?”.
Dia mengangguk atas pertanyaan yang
menghujaninya. Candumu bergejolak. Kau panggil kakek itu. Kau beli kacangnya.
Kau dapatkan senyumannya. Kau pun tersenyum. Kakek tersebut berlalu. Hatimu
lega. Kau lakukan satu hal di depan dia yang menolak kakek tadi. Kau buka bungkus
kacang itu. Kau barikan padanya kepada siapa saja yang kau temui.
“Meski kau tidak membutuhkannya.
Belilah. Dan berikan kepada mereka yang menginginkannya. Terbayangkah olehmu,
seandainya kakek itu adalah orang tuamu? Terbayangkah olehmu, seandainya ayahmu
yang menjajakan kacang itu?”.
Karena penolakan itu, kemudian kau
merasa bersalah. Kau pun mencari kakek itu untuk membeli kacangnya. Kau cari
ia, karena belum lama pergi dari hadapanmu. Ia tidak kau temukan.
Nak, kegigihan seperti apa lagi yang bisa
menjamah hatimu yang tak ingin memberi itu? Nenek itu kau abaikan. Kau hanya
prihatin akan keadaannya tanpa berbuat. Kakek itu kau tolak dagangannya. Kau
bilang lain kali saja. Lalu, bagaimana lagi cara aku mengajakmu untuk memberi?
Aku kehabisan akal. Meski canduku terus memaksaku untuk tak tinggal diam.
Mengajakmu memberi.
Pada kenyataannya hatimu masih angkuh.
Kau merasa mampu berjalan diatas dunia. Melakukan semua hal dengan hartamu.
Tapi untuk memberi sedikit saja ternyata kau tidak mampu. Ingin rasanya aku
menyelamatkan hatimu. Menemukan celah kecil. Menyentuhnya. Mengajak hati itu
memanfaatkan kemewahan untuk mencari kesengsaraan di tepian ibu kota. Kemudian
sama-sama memberi untuk membeli senyuman mereka.
Karena aku dan kau pada akhirnya
sama-sama haus akan kebahagiaan sederhana. Senyum di wajah sendu yang merekah
tersebab kita yang memberi. Tersebab kita mengistimewakan mereka yang dipandang
sebelah mata. Tersebab kita berbeda dan ingin menjadi warna di hidup mereka.
---MYAbsani---
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusI love you ca
BalasHapusMasyallah kak mess😍😍
BalasHapus