Bagian 1
Ibu Percaya Padamu, Anak ku Sayang.
Aku
tua renta yang tak punya harta benda. Menjual kerupuk kulit demi menyambung
hidup. Di desa yang
jauh dari kemegahan Dunia. Sedang anak ku kini belajar di Kota. Kata penduduk
di sini nama kota itu adalah “Kota Bertuah”.
Tak apa, aku di
sini bekerja tanpa kenal lelah, mengais rezeki dari pagi hingga petang. Ini
semua untuk anak ku sayang. Agar kelak di masa mendatang, ia punya masa depan
yang lebih cemerlang karena pendidikan. Tak mengapa, aku bekerja seorang diri,
bertahan tanpa suami, agar anak ku sayang menjadi “Orang” di negeri seberang.
Pun tak mengapa, masa tua ku habis di gubuk reot ini, masa tua ku habis di
balik terik mentari dan dinginnya malam, hingga kelam dan tanah bebatuan
merengkuh tubuh ringkih ini ke perut bumi, untuk anaku ku sayang, aku berjuang
dan bertahan hidup hanya karena kalian. Sepasang darah dagingku di kota orang.
Jadilah seperti
yang ibu banggakan. Meski tak pernah sedikit pun kalian bangga memiliki ibu
yang tak seperti ibu teman-teman kalian, yang cantik, kaya, dan berpendidikan.
Jadilah seperti yang ibu banggakan. Meski tak ada terucap nama ibu di setiap
waktu kalian bercerita banyak hal pada teman-teman kalian. Jadilah seperti yang
ibu banggakan. Meski tak pernah ada terselip nama ibu dalam do’a-do’a kalian.
Anak ku sayang, hari ini ibu membuat
100 bungkus kerupuk kulit. Hingga pukul empat sore. Telah terjual 50 bungkus.
Ibu beristirahat sebentar di warung buk Hasnah. Di sana ada teman seusia mu
yang juga kuliah di kota. Pulang ke kampung untuk bertemu, dan berpeluk rindu
dengan keluarga mereka. Ibu teringat padamu, mengapa anak ku sayang tak pulang
ke pangkuan ibu? Yang ibu dengar dari teman-temanmu, sekarang perkuliahan
sedang libur. Apa anakku sayang tak merindukan si tua renta ini?
Selang 15 menit ibu duduk
beristirahat di warung buk hasnah, ibu segera akan melangkah pulang. Tapi,
langkah kaki ibu tercegat oleh percakapan mirna dan buk hasnah.
“Buk, kasihan
ya ibu retno, berjualan dengan susah payah di kampung ini. Sementara di
Pekanbaru Riri berfoya-foya setiap saat bersama teman-temannya”.
“Berfoya-foya
Mir?”
“iya buk, Riri
itu jarang sekali masuk kuliah, setahu Mirna, dia jarang masuk kuliah karena
jalan-jalan keliling pekanbaru terus buk, ada saja teman yang menjemputnya ke
kos buk, entah itu cowok dengan motor gede, ataupun tema-teman ceweknya dengan
mobil-mobil mereka”.
“Ya Allah,
Riri. Gak tahu diri sekali jadi anak. Kasihan ya buk Retno Mir, bahkan sekarang
saat kalian libur kuliah saja dia tidak pulang ke kampung ini”.
Kaki ibu lemas, dada ibu sesak, tapi
ibu tak bisa terus berdiam diri di sana mendengarkan Mirna dan Buk Hasnah
berbicara yang tidak-tidak tentang mu Riri. Telinga ibu terlanjur pekak, ibu
melanjutkan perjalanan pulang kerumah, dengan langkah terseok-seok dan menangis
dalam diam. Mungkin kah anak ku sayang melakukan semua hal seperti yang Mirna
ceritakan pada buk Hasnah? Hati ibu setengah percaya setengah tidak, nak. Tapi
ibu tetap pada tekad awal sejak kau pamit belajar ke kota. Mempercayaimu
seutuhnya. Tak peduli tetangga kiri kanan berkata apapun tentang dirimu.
Yang ibu tahu,
anak ku sayang kini sedang belajar dengan baik di negeri seberang. Kini tak
pulang ke kampung halaman karena banyak tugas kuliah yang harus di selesaikan.
Sesuai dengan isi pesan singkatmu pada ibu 10 menit yang lalu.
Seketika air
mata ibu berganti harapan. Berharap kau selalu baik-baik saja di sana, nak.
Belajar dengan sungguh. Bukan berfoya-foya seperti kata Mirna. Ibu percaya pada
mu, anak ku sayang.