05 November, 2015

Semua Akan Indah, Jika Kau Memulai

Kebencian akan ketidakadilan
Dendam atas tindakan pemerintah
Dan menyesal tak sempat berbuat apapun
Tebuslah semua
Dengan niat menghilangkan perbedaan
Semua akan indah,
Jika kau memulai
Membaca buku
Belajar
Menjadi yang terbaik di kelas
Mewujudkan cita-cita
Menjadi sarjana
Yang pada akhirnya
Kau harus mengabdi
Pada Tuhan dan negeri ini
Kau = mereka
Mereka = kau
Tingkat kebaikanlah yang pada akhirnya
Membuat kau dan mereka tak lagi sama
Ikhlaslah dalam belajar
Dan berbagilah dengan yang lain
Hidupmu akan terasa bahagia
Hingga kau lupa,
Proses panjang yang memakan usia

Ternyata

Ternyata
menghindar itu
justru menimbulkan banyak pertanyaan.
Pun menahan diri
melahirkan banyak kerinduan.

Karena Kaulah Yang Berani Berhijrah

Sekali pun kau pria terjahat yang pernah ku kenal.
Aku tetap suka
Sekali pun kau tak mempedulikanku
Aku tetap saja memikirkanmu
Bahkan dalam mimpiku
Sekalipun kau terlahir bukan untuk ku.
Aku tetap menginginkanmu
Dan ketika kau dengan segala kekuranganmu.
Bukan termasuk dalam tipe pria yang ingin ku jadikan imam.
Hingga kini aku tetap memilihmu
Sekalipun kau tak pernah berdoa tentang aku.
Aku selalu mendoakanmu
Agar kau selalu baik baik saja
Dan agar kita berjodoh
Karena aku percaya.
Kau mampu membawaku ke arah yang lebih baik.
Karena kau lah yang berani berhijrah

Aku Punya Impian

Aku punya impian,
bahwa suatu saat,
Ketika aku bertemu pasangan hidupku
aku akan menghabiskan waktu bersamanya
mendaki gunung merapi
sebagai ungkapan rasa syukur pada ilahi

Metamorfosis

Metamorfosis.
Bukan tentang siapa yang lebih baik di masa lalu.
Tetapi tentang siapa yang terus membaik dari masa ke masa

Engkau, Titik Dalam Nadi

Ketika mata tak mampu lagi saling bersitatap
Dan mulut tak mampu lagi bercerita tentang keindahan dirimu
Ketika kaki tlah lelah menujumu
Dan tangan yang mulai alfa menulis namamu.
Namun hati, selalu saja menyisakan ruang untuk namamu.
Fikiran, terus mengelabui do'a do'a untuk terus memelukmu dari kejauhan.
Indraku lelah,
Namun hati ku tetap tak berpasrah.
Indraku patah arah,
Namun fikiranku terus bersikeras temukan arah.
Engkau, titik dalam nadi.
Dalam hembusan nafas,
Satu tarikan waktu.

Kutipan Film "Kehormatan Dibalik Kerudung"

Pertemuan pertama menyisakan rasa penasaran.
Pertemuan kedua menyisakan rasa rindu.
Dan saya tidak ingin merindu.

Kepada Waktu

Kepada waktu
yang menelan seluruh  jiwaku.
Selamatkan aku, dari tipu daya dunia.
Kepada waktu
yang memenjara hati dan rasaku.
Jauhkan aku dari resah, gelisah dan airmata.
Selamatkan aku, dari tipu daya gelora asmara
Kepada waktu
yang memberiku harapan.
Peluk aku dari rasa kecewa dan putus asa.
Hantarkan aku pada gerbang kebahagiaan hakiki.
Selamatkan aku dari tipu daya perasaan fana.
Kepada waktu.
Aku luluh bahkan lumpuh.
Jiwaku, hatiku, dan sejuta harapan.
Hingga detik ke sepuluh pun
Aku tak bergeming.
Waktu memakan seluruh impian.
Hingga cinta tak bermakna merusak masa depan.
Kepada waktu.
Kakiku kaku.
Hatiku beku.
Jiwaku hilang tujuan.
Terbang.
Kembali pulang.
Hidupku
Dan seluruh waktuku.
Sia-sia.

30 Oktober, 2015

Dalam Ingatan

Meski jerebu itu masih ada.
Setidaknya aku punya kenangan indah tentang langit biru.
Dalam ingatan.
Saat aku tertawa bersama teman
Saat aku tersenyum mengiringi pergerakan awan
Bahkan saat aku terdiam menatap langit yang perlahan kelam bersama senja.

Hilang

Jiwa jiwa pengecut dan penjilat
jiwa jiwa yang tega mengubah tujuan
jiwa jiwa yang mau di suap tahta
Jiwa jiwa yang ikut ikutan saja
kapan kau menjadi seorang yang jujur dan berbudi pekerti
kapankah kau menjadi yang pertama mengemban amanah dengan ikhlas
kapankah kau menjadi yang pertama menolak sogokan dolar maupun rupiah
kapankah kau sadar bahwa dirimu bukanlah robot yang bisa di kendalikan banyak tangan
seharusnya kau punya prinsip hidup kawan
seharusnya kau bisa jujur pada dirimu sendiri
seharusnya kau tak membela diri jika bersalah
seharusnya kau terima segala penghargaan maupun hukuman
jangan putar balikkan fakta
jangan mainkan opini publik
jangan racun otak bangsa dengan cara cara culas.
jangan jadi yang terdepan untuk menghancurkan masa depan
jutaan umat tak berdosa.
Jangan baris di garis start.
Jika kau tak pernah ingin ke garis finish.
Dan sekali lagi hanya untuk ikut ikutan.
Yang kekinian.
Habislah sudah kau di musnahkan oleh do'a terbaik mereka yang tertindas kekuasaan.
Hilang.

Berhijrahlah

Berhijrahlah jika memang kau ingin,
bukan karena sesiapa.
Tapi karena hatimu sendiri
jadilah yang terbaik untuk yang terbaik
semoga kelak kau dapatkan cinta yang hakiki
jika kau tak sanggup meninggalkan semua keburukan masa lalu
kau tak akan berhijrah walau sejengkal
Jika kau sudah mantapkan hati.
Berhijrah sejauh apapun jua tak akan terasa.
Karena peluhmu terbayarkan oleh kedamaian hati.
Berhijrahlah.
Semoga kau menjadi pribadi yang lebih baik.
dan terus membaik.
Hingga seluruh kebaikanmu menghapus keburukan yang tlah lalu.

Catatan Kecil. 26 Oktober 2015

Seolah Tuhan Merestui

Seolah Tuhan merestui aksi damai ini
cuaca tidak panas sejak pagi
siang, cuaca agak mendung
siang menjelang sore
Hanya rintik-rintik air langit yang turun
ketika Plt. Gubernur Riau menampakkan batang hidungnya di hadapan ribuan mahasiswa
Cuaca cerah kembali
hingga sore menjelang magrib
massa membubarkan diri
cuaca pun masih bersahabat
dan ketika massa istirahat di rumah masing-masing
tidur pun di iringi alunan suara rintik hujan yang damai.
Kepada hari ini.
Aksi ini.
Luar Biasa
Terimakasih Tuhan

Sekolah Kami, Kami Rindu

Dear,
Siswa siswi yang merindukan sekolah

Sekolah kini bukan lagi tempat tatap muka guru dan murid
sekolah kini bukan lagi tempat bermain bersama teman-teman sekelas
sekolah kini bukan lagi tempat makan bersama di kantin sekolah
sekolah kini bukan lagi tentang di jemput papa, mama ataupun kakak
sekolah kini bukan lagi tempat menghabiskan waktu setengah hari
Bahkan sehari pun tidak
sekolah kini hanya tempat para orang tua menjemput tugas untuk anak-anak mereka
sekolah kini hanya tempat absen kehadiran guru-guru
sekolah kini hanya tentang lembar-lembar LKS yang harus dikerjakan dari hari ke hari
sekolah kini hanya di huni oleh jerebu
sekolah kami,
Kami rindu

Yang Katanya Kaya

#MelawanAsap
#SumpahMelawanAsap
#SumpahPemuda

Ini aksi damai, Bukan demo anarkis
yang terpenting tujuan tercapai
bukan datang lalu pergi sia-sia
ini tentang panggilan hati
bukan keterpaksaan
ini tentang kesetiaan dalam perjalanan
bukan yang setengah-setengah
ini tentang kebersamaan
Bukan pecah belah
tanpa embel-embel organisasi
tapi atas nama civitas Akademik UIN Suska
ini tentang aksi pertamaku
yang sangat merasa perlu ikut
karena aku ingin melawan
bukan mati perlahan
ini tentang agent of change
bukan tentang ikut-ikutan
ini tentang kemnnusiaan
bukan mainan
ini tentang masa depan anak cucu
bukan menghabiskan hutan
ini tentang aspirasi
bukan konspirasi
ini tentang Aku, Kau dan Mereka
yang telah muak dan jijik dengan asap
ini tentang Aku, Kau dan Mereka
yang telah kenyang bahkan mati karena asap
ini tentang Aku, Kau dan Mereka
Yang ingin di dengarkan
Bukan di abaikan
ini tentang jerebu dan Bumi Lancang Kuning
Yang katanya kaya
Yang katanya kaya
Yang katanya kaya
Yang katanya kayak pembunuhan berantai, sistematis, masif dan terencana.

Terlelap

Bangunkan jiwa-jiwa yang telah terlelap lama itu.
Bangunkan bangkai-bangkai yang hanya puas dengan janji-janji kampanye
bangunkan manusia-manusia intelektual, agar dapat mengaum lebih keras.
Singa yang telah lama mengintai mangsa,
hari ini keluar dari persembunyian
untuk menerkam seluruh mulut-mulut penuh dusta
untuk mencabik hati-hati yang kotor
untuk memakan kepala-kepala dengan otak udang
untuk kemudian memuntahkan isi perut, yang tidak sudi di isi dengan janji baru yang telah terucap.
Buktikan omongan anda
jika benar anda seorang yang amanah
satu tahun kemudian
kami akan kembali.
Jika bangkai kalian masih duduk manis
menikmati penderitaan rakyat ini
jerebu dan singa yang siap mengaum hingga ke langit biru.
Salam riau merdeka

Apa?

Apa yang mampu kau lakukan ketika tubuh telah kaku?
Nothing!
Apa yang mampu kau lakukan ketika darah masih mengaliri tubuh?
Everything!
lakukanlah semua.
Lakukan semasa jiwa tenggelam dalam raga
lakukanlah karena cinta
untuk dirimu
dan Dunia
Menulislah.
agar umurmu sepanjang umur Dunia
meski nanti tubuhmu telah kaku dan jiwamu telah terbang
gagasanmu akan terus hidup
dalam jiwa-jiwa baru
dan ketika kau nanti menghilang
jejakmu masih tetap tertinggal
dalam buku-buku
dalam lubuk sanubari yang berilmu

Sekali Aku Mampu

Ini bukan tentang kau
ini tentang aku
ini bukan cita-citamu
ini cita-citaku
aku tak peduli kau berkomentar
aku tak peduli kau menghalang
aku pun tak peduli kau mengatur
aku akan tetap melakukan
Semuanya
apapun yang ku suka
apapun yang ku mau
bahkan jika aku menginginkan Dunia
aku pun tak peduli kau berkata
"Kau tak akan bisa!"
yang ku tahu
kesungguhan dan hasil akan selalu berbanding lurus
sekali aku mampu
Kau akan terdiam
sekali aku mampu
kau akan tercengang
sekali aku mampu
kau akan bertepuk tangan
Atas kesuksesanku

Secuil Puisi Kehidupan

Melihat
mendengar
dan merasakan
setiap perubahan di sekelilingmu
mencermati
memahami
Dan menghayati
maksud alam di setiap waktumu
ambil seluruh pesan Tuhan yang tersirat
simpan untuk dirimu
abadikan dalam bukumu
dan bagikan ceritamu
agar seluruh dunia tahu
Kisah tentang kau dan alam semu
kita hidup berbatas umur
kita melangkah sepelemparan batu
untuk kemudian jatuh bersimpuh
meminta rahmat dan kasih sayang-Nya
jangan sia-sia kan waktumu
hanya untuk lima menit di dunia
maka berbagilah denganku
berbagi cerita dan cinta
dalam tulisan sederhana
Yang mampu menggetarkan jiwa
mereka yang diam saja
hingga akhir masa
tak meninggalkan secuil puisi kehidupan
untuk kemudian hilang dalam perut Bumi
dan terlupakan

26 Oktober, 2015

Kisah Tentang Aku, Waktu dan Tulisan

Gagasan demi gagasan
ku satukan dalam lembar demi lembar
dari waktu ke waktu
terus ku tulis apapun yang melintas
Di fikiranku
pena yang tiada henti menari
dan tangan yang tak penat mengiringi
setiap hal yang terjadi di keseharianku
adalah momen yang mungkin tidak akan terjadi dua kali
Maka, harus ku ingat, ku catat, untuk suatu saat nanti dapat ku kenang
Menulis bukan hal yang sulit
menulislah walau hanya satu kata
karena menulis bukan pekerjaan sia-sia
kumpulkan tulisanmu
untuk pembaca yang kau cipta di kemudian hari
mereka, anak cucumu
meski bukan seluruh dunia mengetahui gagasanmu
setidaknya mereka tahu
untuk kemudian mengerti dan mulai menulis pula.
Ini kisah tentang aku, waktu dan tulisan
serta keabadian dan kedamaian
Dalam jiwaku

02 Oktober, 2015

Sanubari Pemimpi



Setiap kali membaca postingannya di Facebook hatiku tersentuh. Setiap kali ia bercerita tentang mimpi-mimpinya, aku ingin berjalan beriringan menggapai mimpi yang timbul tenggelam di masyarakat tetapi tetap memuncak dalam tekadnya. Ia bersama seseorang yang sangat menyayanginya-Abah. Di samping keluarga yang selalu mendukungnya. Dia dan seseorang yang dalam diam memikirkan masa depan bangsa. Diam mereka bukan tanpa karya. Hanya saja, tersembunyi oleh media. Dihalangi oleh penguasa. Di tekan dan di injak hingga “harus” merasa putus asa. Tetapi asa itu tak pernah ada. Hanya saja secuil kekecewaan singgah. Dan tak lama kalah oleh rasa cintanya pada Indonesia.  Kecewaan itu mereka rangkai kembali menjadi tantangan baru.

“Mimpi-mimpiku harus menjadi kenyataan!
Walau tidak semua terwujud selama Aku hidup, setidaknya aku meninggalkan potongan mimpiku pada mereka. Agar kelak, aku terus bermimpi meski sudah tidur dan tidak bangun lagi.”
(Sanubari Pemimpi)

Tidak banyak yang semangat mencari tahu kehidupannya. Hanya segelintir Pihak akademik Kampus dan mahasiswa yang rela memluangkan waktu untuk menimba ilmu ke tempat pertapaan sang pemimpi-Ciheras, Tasikmalaya. Sedang sebahagian besar yang lain, turut mengundang mimpi-mimpi itu datang menghinggapi mereka yang tak mampu jauh ke sana. Dengan rasa ingin tahu yang besar dan rasa kebersamaan ingin membangun negeri mereka mengundang sang pemimpi bertamu ke kampus-kampus di pelosok negeri. “Blusukan” ke kampus pun kini sudah menjadi salah satu rutinitas sang Teknokrat.

Benar pula adanya, negeri ini kurang menghargai karya besar yang “Wah” menurut negara lain. Ketika pemuda dan pemudinya cakap dalam bidang teknologi, negeri ini lebih memilih untuk tidak berhenti mengkonsumsi teknologi asing. Kesadaran untuk mandiri itu ada. Tetapi negeri ini tidak ingin sedikit Royal untuk investasi masa depan Indonesia. Dari pada Royal untuk negara, lebih baik Royal pada diri sendiri dan keluarga dengan uang negara. Pemikiran kolot tangan tangan kotor yang “khilaf” di perjalanan “mengabdikan diri” pada negeri. Itulah fakta yang ada di Indonesiaku.

Ketika Abah mendapat amanah menjadi Menteri, ia  sadar bersama “anaknya” ia mampu mengubah bangsa ini menjadi mandiri. Dengan menanamkan rasa cinta pada tanah air, Abah membawa pulang pemuda berdarah “rantau” kembali ke pangkuan ibu pertiwi. “Ricky Elson” yang telah cukup lama mengabdi pada negeri sakura tempat ia di tempa menjadi Teknokrat. Pulang ke Indonesia bersama sang Abah, Dahlan Iskan.

04 Mei, 2015

KAMU


Jika mata di balas mata. Maka haruslah hati dibalas hati. Karena mata tak pernah bohong. Dan hati akan selalu menjiwai.
Menemukanmu duduk santai menikmati alam di tepi danau ini adalah takdir yang selalu ingin ku buat. Langkah kakiku selalu ringan menujumu. Memperhatikanmu dari jarak tiga meter sudah menjadi kebiasaanku. Sejak ku tahu, kau pengunjung setia danau ini.
Kau terlihat berbeda, kebanykan orang ke danau ini dengan pasangan mereka. Bercerita, ber-selfie ria, dan saling berkasih sayang. Sedang kau menyendiri. Membaca buku atau hanya sekedar meluangkan waktu menyapa burung-burung yang asyik mandi di danau ini. Terkadang aku melihat kau menulis atau melukis. Entahlah. Aku tidak tahu benar. Yang jelas kau memegang buku dan pena. Menatap alam kemudian mengabadikannya dengan penamu. Aku berfikir kau adalah sastrawati yang menarik, unik, dan cantik.
“Hai.” Sapa seorang wanita sambil memegang pundakmu.
“Haiii”, kau tersenyum pada seorang teman di belakangmu. Sangat manis. Aku jatuh cinta.
“Sudah lama ya?”
“Baru setengah jam”
“Maaf ya, tadi aku masuk, baru keluar. Dosennya kelewatan” sungut temanmu.
“Iya, gak apa-apa Lies”
“Duduklah”
“Mana bukumu?”
“Ini...” sebelum kau memberikan buku yang kau coret-coret tadi pada temanmu, kau menarik lenganmu dan menagih buku miliknya.
“Ini. Jangan tertawakan cerpenku!”
“Tidak akan. Aku hanya akan memberimu saran Lies.”
Setelah kalian saling bertukar buku. Hening. Kalian sibuk dengan buku di tangan masing-masing.
***
“Bagus, seperti dua orang yang autis. Hahaha maaf aku mencurinya”.
“Rey!”
“Ya ma,”
“Cepat kesini. Makan malam bersama”.
Sesampainya di ruang makan, ku lihat seseorang yang tak asing bagiku.
“Papa!” sapaku agak ragu. Surprise. Senang.
“Hai Rey”
“Hai Pa, apa kabar?” sambil ku salami seseorang yang telah lama ku rindukan.
“Papa sahat, seperti yang kamu lihat. Kamu bagaimana Rey? Kuliahmu bagaimana?”
“Aku tidak sehat setelah papa tinggal. Dua bulan aku kehilangan 10 kg berat badan. Aku demam setiap minggu. Mengigau saat tidur, memanggil papa. Berharap papa pulang. Dua bulan pula, aku mengurung diri. Tidak kuliah.”
“Maafkan papa. Maaf nak”.
Tiba-tiba papa memelukku. Hangat, sangat tentram. Aku merindukan pelukan ini.
“Jangan pergi lagi pa!”
“Tidak akan pernah lagi Rey”.
“Tidak akan pernah?”
“Papa akan selalu bersama kamu”.
“Pa...” ku lepas pelukan itu, ku tatap mata papa.
“Papa berhenti. Papa akan buka bisnis. Papa akan menghabiskan waktu bersama kamu dan mama”.
“Terimakasih pa”. Aku kembali memeluknya erat.
“Bagaimana Palestina pa?” tanya mamaku di sela-sela makan malam.
“Sangat kacau ma, tetapi penuh keimanan dan keberanian”.
“Banyak kejadian luar biasa?”
“Iya ma, banyak keajaiban”
“Seperti apa pa?” tanyaku penasraan.
“Seorang anak laki-laki berusia lima tahun berdiri bersama kedua orang tuanya di perbatasan perang. Ia menggenggam sebuah batu. Jalan dengan gagah beraani menuju tentara Israel. Setelah ia mersa cukup dekat. Iaa melempar batu tersebut hingga mengenai mata salah satu tentara Israel. Ajaib bukan?”
“Dengan gagah berani, ia berbalik dan kembali ke barisannya. Namun... seseorang menembaknya. Tentara Israel yang di lemparnya tadi. Membunuh anak itu. Orangtuanya menjerit histeris. Allahuakhbar! Allahuakhbar! Allahuakhbar! Kemudian mereka tersenyum memangku puteranya yang mati syahid. Mengecup kening anaknya. Lama sekali. Sampai ia ikhlas. Merelakan anaknya pergi”.
“Saat itu papa teringat padamu. Papa menangis mengingat dirimu yang papa tinggalkan. Sejak saat itu papa janji akan di samping Rey hingga saat terakhir kita bersama”.
“Papa sayang Rey?”
“Sayang sekali, sangat sangat sayang. Melebihi seragam tentara papa. Melebihi uang yang kita punya. Melebihi rumah ini. Kamu harta papa dan mama. Kamu yang terindah Nak. Izinkan papa menjadi papa terbaik selama kamu hidup”.
***
“Selamat pagi ma, pa”.
“Pagi Rey”.
“Pagi Rey, sarapan dulu”.
“Rey telat pa. Ntar Rey sarapan di kampus”.
“Papa anter kamu ya”.
“Gak pa, papa makan aja. Rey bukan anak TK lagi. Rey udah kuliah pa”.
“Papa mau...”
“Pa, jangan jadi menyebalkan please”.
“Pa, jangan terlalu protektif dengan Rey. Dia bisa jaga diri”. Ucap mamaku sambil tersenyum membuat papa mengerti.
“Rey pergi ya pa, Assalamu’alaikum”.
“Ma, Rey pergi dulu ya”.
“Iya sayang. Semangat belajarnya”.
“Nanti Rey pulang sore ma”.
“Danau?”
“Yap. Hehehe”
“Danau Rey?”
“Iya pa. Papa tanya mama aja ya pa. Rey telat nih”.
“Assalamu’alaikum”.
***
            Sendiri. Menunggumu. Sudah pukul 16:45. Kau belum juga datang. “Apa kau akan absen hari ini?”. Tidak lengkap rasanya melihat burung menari tanpa kau bernyanyi. Melihat langit cerah tanpa kau disini. Melihat ai bergerak tetapi aku hanya berdiam diri. Tidak menarik sama sekali.
“Mengapa kau belum datang juga?” sudah pukul 17:30 tanda kehadiranmu belum ku lihat. “Lebih baik pulang. Menghabiskan waktu bersama papa”. Cukup sudah untuk hari ini. Kau absen tanpa memberi tahu ku. Kau membuatku hampir gila menunggu.
Aku beranjak menuju motor. Ketika hendak menghidupkan mesinnya. Ku lihat kau berjalan ke arahku. Oh bukan. Tentu saja ke tempat kau biasa duduk di tepi danau ini. Entah mengapa aku sesenang ini. Aku senang kau datang. Meski aku akan pulang. Setidaknya aku menunggu hal yang pasti. Kamu.
“Sudah sepi...”
“Iya, sepi sekali...” tiba-tiba kakiku berat untuk pulang. Hatiku meminta untuk menemanimu. Logikaku hilang. Aku tak tahu lagi apa itu malu. Yang ku ingin saat ini, menerima hal yang ku tunggu. Kamu.
“Eh, kamu siapa?” tanyamu heran. Tatapanmu takut. Seolah melihatku seperti orang jahat. Tapi, aku suka kau seperti itu. Aku suka kau yang tak ramah pada orang yang baru kau kenal.
“Aku Rey. Namamu?” ucapku memperkenalkan diri.
“.......”
“Kau takut padaku?”
“.......”
“Aku bukan orang jahat. Aku mahasiswa disini juga. Semester 7”.
“Mahasiswa UIN? Semester 7? Apakah aku bertanya tentang itu?”
“.......”
            15 menit berlalu. Aku hanya diam. Tak beranjak. Menunggumu bicara. Aku takut salah bicara lagi. Aku takut perkenalah ini meninggalkan kesan buruk bagimu. Sehingga membuatmu tak suka padaku.
“Maaf bang, aku tak bermksud menyinggung. Aku memperlkukan semua orang yang ku kenal seperti itu. Karena aku ingin tahu sifat mereka. Dan abang tahu? Abang SKSD (sok kenal sok dekat).”.
“Kalau begitu jangan minta maaf. Kau tidak salah apa-apa. Aku bukan SKSD. Aku memang mengenal siapa dirimu. Dan sekarang kita memang dekat”. Ujarku membela diri.
“Memang kenal aku? Memangnya siapa aku?” tanyamu dengan wajah sinis.
“Kau Sani. Mahasiswa Pend. Matematika semester 5”.
“Bagaimana abang tahu? Detektifkah? Atau abang ingin menculik seseorang?”.
“Iya. Aku ingin menculikmu. Membawamu kerumahku”.
“.......”
“Mau ikut?”
“.......”
“Aku mau pulang. Kau mau ikut?”
“.......”
“Maaf, aku hanya bercanda. Aku tak akan menculik siapapun. Kau fikir aku psikopat? Hahaha. Aku hanya akan mengantarmu pulang”.
“.......”
“Maafkaan aku San”.
“.......”
“Maaf. Bicaralah. Sudah senja”.
“Aku bisa pulang sendiri”.
“Baiklah. Sebelum pulang bisakah kau maafkan abang?”
“Iya”.
“Hanya itu?”
“Iya, aku maafkan”.
“Sampai bertemu besok San. Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaaikumussalam”.
***
Sabtu, 28 Februari.
“Hai San”.
“Hai”.
“Sudah berapa lama?
“Baru saja bang”.
“Mau minum?”
“Terimakasih, letakkan saja”.
“Kau menulis apa?”
“Novel”.
“Kau hobby menulis?”
“Seperti yang abang lihat”.
“Tentang apa?”
“Cinta?”
“Kau percaya cinta?”
“Bagaimana tidak, aku terlahir karena cinta”.
“Benar juga”.
“Abang percaya cinta?”
“Ya, aku sedang merasakannya”.
“Oh...”
“Hahaha, cuek sekali”.
“Ini sudah terlalu ramah pada orang yang baaru ku kenal bang”.
“San, kita berkenalan 2 minggu ynag lalu”.
“Ya, aku tahu”.
“Ada yang bisa ku bantu?”
“Mmm, menurut abang apa itu cinta?”
“Cinta adalaah anugerah. Melihat seseorang yanag membuatmu berdebar. Melihat seseorng yang menarik seluruh perhatianmu. Melihat seseorang yang memberimu alasan untuk terus tersenyum. Merelakan masa depan yang tergenggam, terlepas bagitu saja. Cinta itu kau”.
“Oke, jangan berpuisi bang. Jangan gombal juga. Hahaha terlalu membawa perasaan. Apa yang abang maksud dengan melepas masa depan?”
“Hahaha, aku tidak terlalu membawa perasaan San. Tapi kini. Aku memang jatuh cinta. Padamu. Hari ini aku seharusnya mengikuti wawancara di sebuah perusahaan.”
“Mengapa tidak pergi?”
“Aku ingin bertemu denganmu. Sesederhana itu San”.
“Bodoh. Haruskah aku merusak masa depan seseorang?”
“Kau tidak merusak apapun. Ini pilihanku”.




Biodata Penulis
Nama Lengkap: Mesra Yolanda Absani
Nama Pena: Myabsani
Umur: 19 th
Blog: Coretan Myabsani
Email: mesraabsani99@gmail.com
Mahasiswa aktif Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Jurusan Pend. Matematika. Semester 4
Cita-cita: To Be A Writter like Darwis Tere Liye dan Ilana Tan

Parfume



Bau tubuhmu bau tanah basah, sebentar lagi kau akan menutup usia. Kau berjalan dari bilik kamar mandi menuju bilik kamar. Hanya dengan handuk yang tutupi keriput kulit. Kau bersenandung kecil bagai bocah bernyanyi sesuka hati.Lupa lirik. Bukan karena otak mu yang tak bekerja, tapi pikun telah menyergap memori.
Mak Dijah, kau bagai gadis baru puber. Setelah mengusap seluruh badan dengan handuk, kau bungkus tubuh dengan kain baru. Merah menyala bajumu, kuning taik warna rokmu. Belum lagi jilbab hijau daun yang kemarin sore kau beli di pasar, menutupi kepala yang beruban. Mak Dijah, kata anak zaman sekarang kau tabrak warna.
Kau bercermin. Lama… menatap rupamu sendiri. Pantulan cermin hanya tampakkan bagian bahu hingga kepalamu saja. “cantik,” pujimu pada diri sendiri. Kau buka pintu almari sebelah kiri. Mengambil bedak tabur, untuk mengubah warna wajahmu. Mengambil pensil alis, mulai melukis dua lengkungan. Hitam legam tepat diatas matamu. Lipstik merah terang kini ditanganmu, kau monyongkan bibir. Oleskan pelan, hingga bibir coklatmu berganti warna. “nge-jreng” kata anak muda kini.
Mak, kau seperti artis nak naik ke atas panggung. Enatahlah apa yang kan terjadi jika kau memang benar naik ke panggung nanti. Mak dijah, kau akan menjadi pusat perhatian mata duniamu.
Bau tubuhmu kini, bau tanah kering Mak. Setelah lama memoles wajah keriput itu, kau ambil botol kaca kecil di dalam lemari. Warna air itu kekuning-kuningan. Kau kocok sebentar, lalu memutar tutupnya. Kau oleskan ke telapak tangan kanan. Kau pertemukan dengan telapak tangan kiri. Kau gosok pelan. Lalu Mak usap telapak tangan itu ke ketiak kanan dan kiri.
Merasa dirasa wangimu kurang, Mak ambil lagi botol kecil yang tadi terletak di atas lemari. Kau oleskan lagi ke telapak tangan, kau gosok pelan telapak tanganmu yang bertemu. Lalu kau usapkan telapak tangan itu ke bahu kanan dan kiri.
Mak Dijah, kau kini seharum malaikat subuh.
“Mak Dijah, harum itu tak menutup indera penciuman mereka. kau tetap bau tanah. Sadarlah mak, parfume yang kau andalkan itu, hanya sebentar membuat bau tanahmu hilang. Kau tetap bau tanah,” kata pantulan dirimu di dalam cermin.
Kau berlari ke kamar mandi, membasuh mukamu. Sekuat tenaga kau gosok kasar muka keriputmu. Air itu melunturkan bedak, pensil alis, dan lipstik yang tadi mengubahmu bak gadis remaja. Wajahmu kembali seperti apa adanya. Keriput dann coklat tanah. Kau kembali bercermin,
“Mak, kau tetap tak seharum malaikat subuh, kau bau tanah. aku tak peduli wajahmu yang telah bebas dari rekayasa. Tapi yang ku permasalahkan, bau tubuhmu mak. Bau tanah!,” ujar orang di cermin itu, lagi.
Sontak tersadar, kau tanggalkan hijau, merah, kuning itu. Kau buka lemari sebelah kanan, kau ambil baju kurung warna coklat muda. Baju kurung itu sempurna membalut kulitmu yang kering, keriput, lisut. Hijau, merah, kuning berparfume itu kau lempar ke sudut kamar di balik pintu.
“kau cantik dik, kau tanpa rekayasa wajahmu, kau tanpa bau yang palsu,” kata seorang pria di depan pintu kamarmu.
“eh, abang sudah pulang ya. Terimakasih atas pujianmu,” ujar mak Dijah tersipu malu menatap sang suami.
“sejujurnya aku lebih suka kau yang sederhana Jah, hidungku sesak ketika kau pakai parfume itu,” jujur suami Mak Dijah.
“abang, aku ingin tetap cantik di matamu, maka dari itu ku coba berbagai hal yang di pakai anak muda kini, dan seseorang berkata padaku kalau aku bau tanah, aku tak ingin kau beralih pandang pada yang lain,” balas Mak Dijah.
“ingatlah dulu, saat aku memintamu menjadi pendamping hidupku. Tak ku hiraukan puluhan wanita ber-make-up mengungkapkan cinta padaku, yang ku inginkan hanya kau Dijah. Cantik apa adanya tanpa make-up dan parfume antah berantah,” jelas sang suami menerawang masa di kala ia melamar Mak Dijah.